Tak Ucapkan Insya Allah, Istri Nabi Sulaiman Lahirkan Setengah Manusia

SAHABATSHOLEH – Demikian pentingnya mengucapkan insya Allah, Allah menegur Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan sebuah peristiwa besar. Nabi Sulaiman ingin mendapatkan 100 putra yang kelak menjadi mujahidin fi sabilillah.

“Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah,” kata Nabi Sulaiman saat itu.

“Ucapkan insya Allah,” kata seorang Malaikat kepada Nabi Sulaiman. Namun beliau tidak mengatakannya. Lupa.

Sesuai rencanya, beliau pun berkeliling pada istri-istrinya. Namun dari hubungan malam itu, tidak ada istrinya yang melahirkan anak kecuali satu orang saja. Itupun tidak hidup karena ia melahirkan setengah manusia.

Setelah mengisahkan kisah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ

“Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insyaallah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits shahih yang mengisahkan Nabi Sulaiman ditegur Allah itu menjadi salah satu dalil pentingnya insya Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah ditegur Allah karena tidak mengucapkan insya Allah.

Ketika itu, orang-orang Quraisy meminta keterangan kepada Rasulullah tentang ruh, bagaimana kisah ashabul kahfi dan siapa yang mengembara ke barat dan ke timur.

Rasulullah berjanji akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu besok. Beliau berharap malamnya Jibril datang menyampaikan wahyu.

Ternyata wahyu tidak datang-datang hingga lima belas hari. Lalu Allah menurunkan Surat Al Kahfi ayat 23-24 agar ketika Rasulullah dan umatnya berjanji, mereka mengucapkan insya Allah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا , إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”.. (QS. Al Kahfi: 23-24)

Dua kisah ini menjelaskan, ketika Nabi (khususnya Rasulullah) melakukan kesalahan, Allah langsung menegur dan mengingatkan. Sehingga para Nabi tetap berada di jalan yang lurus. Bahkan Rasulullah menjadi ma’shum, terjaga dari dosa.

Dua kisah ini juga menjelaskan, dengan ucapan insya Allah kita meyakini segala hal terjadi atas kehendak Allah. Dan dengan ucapan ini, seorang hamba mengharapkan isti’anah (pertolongan dari Allah), maka Allah pun mendatangkan kemudahan baginya.

Insya Allah atau In Shaa Allah? Penulisan yang Benar, Arti dan Keutamaan

Seorang muslim pasti sering mendengar ucapan insya Allah. Namun banyak yang bertanya, mana penulisan yang benar, “insya Allah” atau “in sha Allah”? Apa artinya dan apa saja keutamaan ucapan ini?

Penulisan Insya Allah

Banyak yang bertanya, penulisan yang benar itu “insya Allah” atau “in shaa Allah”? Bahkan pernah beredar meme dr Zakir Naik melarang menulis “Insya Allah” dan menyerukan menulis “In Shaa Allah”.

Soal meme itu, dr Zakir Naik tidak pernah mengatakan apa pun tentang penulisan “insya Allah” maupun “In Shaa Allah”. Sehingga gambar yang mencatut nama dr Zakir Naik dalam hal ini adalah hoax. Akun fan dr Zakir Naik telah mengklarifikasinya.

Kedua, memang terdapat perbedaan penulisan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Penulisan bahasa Indonesia menggunakan huruf alfabet sedangkan penulisan bahasa Arab menggunakan huruf hijaiyah.

Dalam bahasa Arab, penulisan yang benar adalah:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Yang artinya “jika Allah menghendaki” atau “jika Allah berkehendak”

Dalam bahasa Indonesia, huruf ش biasa ditulis dengan “sy”

Sedangkan dalam bahasa Inggris, huruf ش biasa ditulis dengan “sh”

Inilah yang membuat perbedaan mengapa kadang tertulis “insya Allah” dan kadang tertulis “in sha Allah”. Mana pun dari kedua cara penulisan ini, asalkan maksud dan bunyinya adalah إِنْ شَاءَ اللَّهُ maka dia benar. Hanya saja yang lebih umum dalam bahasa Indonesia adalah “insya Allah” sebagaimana kita bisa menulis “shalat isya” bukan “shalat isha”.

Penulisan insya Allah dalam bahasa Indonesia pun kadang dengan spasi dan kadang menjadi satu tanpa spasi: insyaallah. Sekali lagi, jika maksudnya sesuai dengan tulisan dalam bahasa Arab, maka keduanya tidak salah. Dalam artikel ini pun kadang ada penulisan yang tanpa spasi. Sedangkan menurut KBBI, penulisan yang baku adalah insya Allah.

Arti Insya Allah dan Penggunaannya

Kata insya Allah (إِنْ شَاءَ اللَّهُ) artinya adalah “jika Allah menghendaki” atau “jika Allah berkehendak.”

Maknanya adalah, segala sesuatu terjadi atau tidak terjadi adalah atas kehendak Allah. Kata ini diucapkan seorang muslim ketika ia berjanji atau berencana mengerjakan sesuatu. Sebab ia tidak tahu apakah hal yang akan dikerjakannya nanti benar-benar terjadi atau tidak.

Kata insyaallah juga mengandung doa. Yakni doa isti’anah, meminta pertolongan kepada Allah agar apa yang ia janjikan atau ia rencanakan dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk mengucapkannya ketika mengatakan akan berbuat sesuatu di masa yang akan datang.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا , إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”.. (QS. Al Kahfi: 23-24)

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh Wahbah Az Zuhaili membuat sub judul “tuntunan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan umat beliau agar senantiasa mengaitkan keinginannya dengan kehendak Allah.”

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan asbabun nuzul ayat ini. Ketika itu, orang-orang Quraisy meminta keterangan kepada beliau apakah yang dikatakah ruh itu, bagaimana kisah ashabul kahfi dan siapa yang mengembara ke barat dan ke timur.

Rasulullah berjanji akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu besok. Beliau berharap malamnya Jibril datang menyampaikan wahyu.

Rupanya Jibril tidak datang-datang hingga lima belas hari. Lalu Allah menurunkan ayat ini agar ketika Rasulullah dan umatnya berjanji, mereka mengucapkan insya Allah.

Penggunaan Ucapan yang Salah

Ketika seorang muslim berjanji atau mengatakan akan berbuat sesuatu di masa mendatang, ia dituntun untuk mengucapkan insya Allah. Saat mengatakannya, keyakinannya kokoh bahwa perkara itu bisa terjadi atas kehendak Allah semata. Di saat yang sama, ia benar-benar berusaha memenuhi janjinya itu dengan segenap ikhtiar.

Terkadang kita dapati ada orang-orang yang tidak percaya ketika orang lain mengucapkan insyaallah saat berjanji. Mengapa? Karena ia beranggapan orang itu tidak serius berjanji dan menjadikan ucapan tersebut sebagai alasan saat janjinya tidak terpenuhi.

Dan ternyata memang ada yang modelnya seperti itu. Mengucapkan insya Allah saat berjanji, tetapi tidak bersungguh-sungguh berikhtiar memenuhi janjinya. Ini adalah penggunaan yang salah.

Sebagai seorang muslim, kita harus menunjukkan bahwa ketika kita mengucapkan insya Allah, artinya kita benar-benar serius, bersungguh-sungguh berusaha memenuhi janji tersebut. Dan sebagai seorang muslim, kita tidak boleh meragukan kesungguhan saudara kita yang mengucapkan insya Allah saat berjanji.

Keutamaan Ucapan Insya Allah

Salah satu keutamaan ucapan ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahih-nya masing-masing. Yakni hadits yang mengisahkan Nabi Sulaiman lupa mengucapkan kata ini.

Sulaiman bin Dawud alaihimassalam berkata: “Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah.”

Malaikat mengucapkan kepada beliau: “Ucapkan Insya Allah.” Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa.

Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya. Hasilnya, tidak ada yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda: “Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insyaallah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi keutamaan ucapan insya Allah adalah kemudahan dari Allah, dengan dikabulkannya hajat yang ia inginkan. Di sisi lain, jika janji tersebut atas takdir Allah tidak terpenuhi, maka ia tidak digolongkan sebagai orang yang mengingkari janji.

Contoh lain bagaimana Allah mengabulkan keinginan orang yang mengucapkan insya Allah terdapat pada Surat Ash Shaffat ayat 102. Ketika hendak disembelih Nabi Ibrahim karena perintah dari Allah melalui mimpi, Nabi Ismail mengatakan insyaallah.

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan dapati aku InsyaAllah termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash Shaffat: 102)

Maka Allah pun menjadikan Nabi Ismail bersabar dan lulus ujian itu dengan hasil yang baik. Beliau tidak jadi disembelih, karena Allah menggantinya dengan kambing. Demikian pembahasan mengenai insya Allah mulai dari penulisan yang benar, arti, hingga keutamaan ucapan tersebut. Semoga kita dimudahkan Allah untuk membiasakannya.

Tags: #arti insya Allah #insya Allah #keutamaan insya Allah #nabi sulaiman #penulisan insya Allah