Mualaf Koh Deni Sanusi Keturunan Tionghoa, Gemetar dan Pingsan Dengar Azan

Hidayah Islam dari Allah Subhanahu wa ta’ala bisa datang kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Inilah yang dialami seorang mualaf yang kini menjadi Pelaksana Tugas Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Deni Sanusi.

Sebelum masuk Islam, Koh Deni Sanusi merupakan umat agama lain. Namun, jiwanya bergejolak. Padahal, Koh Deni masih duduk di bangku SMA yang biasanya anak muda tidak begitu memikirkan perkara agama.

Hingga suatu saat Koh Deni terus-menerus bertemu umat Islam di penjuru tempat. Dia makin merasa gelisah, bahkan sangat malas untuk ibadah di agamnya terdahulu. Akhirnya, Koh Deni memutuskan berkonsultasi dengan seorang ustadz. Dia disarankan berdoa sebelum tidur dengan menyebut “Ya Tuhan”.

“Sebutnya ‘Ya Tuhan’. Tuhan saja yang netral. Nah, itu saya tertarik,” ujar Koh Deni Sanusi, dikutip dari kanal YouTube Hidayatullah TV, Selasa (1/2/2022).

Ia lantas penasaran dengan cara doa yang dimaksud sang ustadz. Koh Deni pun meminta bimbingan serta doa yang dipinta. Mudah saja, dia hanya perlu berdoa untuk ditunjukkan agama yang benar, baik di dunia maupun akhirat.

“Berdoa, ‘Ya Tuhan, tunjukkanlah saya agama yang mana dibenarkan di dunia dan di akhirat dan agama mana yang dapat menyelamatkan saya di dunia dan akhirat,’ udah itu aja,” tutur Koh Deni.

Kebetulan esok harinya bulan Ramadhan tiba. Ini seperti skenario dari Allah Subhanahu wa ta’ala bagi Deni Sanusi. Entah karena apa, dia mendapat dorongan untuk ikut berpuasa. Padahal, Koh Deni belum menjadi seorang Muslim kala itu.

“Saya belum Islam, ada dorongan apa saya enggak paham, saya ikut puasa waktu itu. Sebulan penuh enggak kalah saya. Nah, sebelum mau tidur saya ikuti nasihat itu, doa,” terang Koh Deni.

Baca Juga :   Apa Hukum Mengucapkan Selamat Imlek dalam Islam? Ini Jawaban Buya Yahya, Simak Baik-baik!

Setelah berdoa sesuai arahan sang ustadz, Koh Deni Sanusi mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Hidayah pertamanya adalah puasa. Kala mendengar azan, dia mengaku gemetar seketika, bahkan sempat pingsan beberapa saat.

“Dapat petunjuk, hidayah pertama saya puasa. Kan kalau puasa itu Maghrib, buka, biasa ya. Saya nunggu Maghrib, saya setel radio, tiba-tiba azan. Saya kaget setengah mati sampai klenger lah, pingsan semenit dua menit, gemeter saya. Padahal sebelumnya saya dengar azan biasa aja,” ucap Deni.

Merasa bingung, Deni lantas kembali berkonsultasi dengan sang ustadz. Dikatakan, itu adalah salah satu petunjuk dari Allah Subhanahu wa ta’ala atas doa-doanya. Koh Deni merasa bingung atas petunjuk tersebut, dia pun kembali berdoa dan meminta penjelasan akan hal yang dialaminya.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala memberi petunjuk kedua kepada Koh Deni. Lewat sebuah mimpi, dia melihat sekelompok orang bermain rebana dan melantunkan salawat di sebuah acara TV. Ini makin membuatnya bersemangat untuk terus berdoa.

Belum berhenti di sana, Allah Subhanahu wa ta’ala kembali memberikan hidayah kepadanya. Petunjuk ketiga ini masih sangat membekas di pikiran Deni, bahkan sampai bulu kuduknya sampai merinding ketika membahas hal ini.

Diceritakan, sang ustadz menyarankan Deni untuk tidak tidur di sebuah malam Ramadhan, yakni malam ke-27. Dia pun menuruti perkataan sang ustadz. Dalam perjalanan sepulang dari rumah sang ustadz, sekira jam 1 atau 2 pagi, Deni merasa ada yang menggandeng tangannya dan menuntun arahnya untuk berwudhu. Tidak hanya itu, dia juga dituntun untuk melakukan sholat dua rakaat.

Deni mengaku tak membaca doa apa pun kala itu. Tentu saja lantaran dirinya masih belum tahu apa pun terkait agama Islam. Semua benar-benar terjadi begitu saja, di luar nalar pikirannya.

Baca Juga :   Kisah Mualaf Penuh Tato, Dapat Umrah Gratis dan Mengislamkan Ayah serta 5 Sahabatnya

“Saya ikutin aja, setelah selesai saya naik ke atas dan sholat dua rakaat. Nah, udah kan selesai habis subuh, saya datang ke ustadz,” ujar Koh Deni.

Ia kemudian menceritakan kejadian yang menurutnya aneh dan gaib itu kepada sang ustadz. Dijelaskan, wudhu dan sholat adalah simbol yang identik dengan Islam. Kendati demikian, sang ustadz kembali menyerahkan pilihannya kepada Deni.

“Gini aja deh wudhu itu simbol Islam, sholat juga simbol Islam. Cuma, saya Islam. Enggak mungkin saya ajak kamu karena Islam bukan agama ajakan. Kamu mikir aja deh sendiri. Wah, saya mikir, bener ya ternyata kejadian semalam membekas beneran,” kata Koh Deni.

Beberapa hari kemudian, bulan Ramadhan selesai dan tibalah Idul Fitri. Saat itulah Deni Sanusi, yang masih berusia 19 tahun, mantap menjadi mualaf dan resmi memeluk agama Islam.

Tanpa pikir panjang, dia pun mengikuti segala ajaran Islam, salah satunya melakukan khitan. Mulai dari situlah Koh Deni Sanusi percaya bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala memang benar ada dan kerap mendengar doa-doanya.

“Jadi doa saya itu ditunjukkan agama sama Allah itu dibuktikan,” tandasnya.

Wallahu a’lam bishawab.

 

sumber: bit.ly/3AS4kbz

Tags: #azan #deni sanusi #imlek #kisah mualaf #mualaf #piti #tionghoa