Guru TK Ini Tinggalkan Gaji Besar demi Masuk Islam

303 views

SAHABATSHOLEH – Kisah mualaf guru TK cantik bernama Angelina Larasati ini bisa menjadi inspirasi bagi kaum Muslimin. Memiliki tekad yang kuat, Laras –sapaan akrabnya– rela meninggalkan gaji besar demi masuk Islam. Penasaran bagaimana kisahnya? Simak selengkapnya berikut ini.

Laras adalah seorang guru taman kanak-kanak (TK) di sekolah keagamaan. Dia sudah bekerja selama 7 tahun dan menjadi pegawai tetap di sana. Gaji yang diterima Laras pun terbilang sangat besar, bahkan bisa membeli satu unit rumah pribadi.

“Saya merasa dulu punya pekerjaan oke, gaji oke, bahkan lebih dari cukup waktu itu, di atas UMR. Sejujurnya sebelum ibu saya sakit juga saya sudah punya rumah, sudah ajak ibu jalan-jalan juga,” kata Laras, seperti dikutip dari kanal YouTube Laskar Tujuh Langit, Senin (10/1/2022).

Namun kala itu, Laras merasa hidupnya sangat hampa. Dia tidak pernah merasa cukup dengan pendapatannya yang besar itu. Meski sudah memiliki rumah dan banyak uang, jiwanya tetap saja terasa kosong.

“Saya punya uang, tapi hidup saya enggak tenang gitu,” ujar Laras.

Hingga akhirnya ia mendapat hidayah Islam dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia memiliki panggilan jiwa tersendiri untuk masuk Islam. Lantas, melalui pemikiran yang matang, Laras pun memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut.

“Saya sudah berencana keluar dan bersyahadat,” ucap Laras.

Awalnya ia sempat ragu karena segala godaan yang datang. Pasalnya, sekolah terus-menerus mempertahankannya hingga menawarkan jabatan tinggi menjadi kepala sekolah.

“Waktu itu saya sempat mau dijadikan kepala sekolah, segala macam. Gaji, status otomatis naik. Sekolah juga masih terus mempertahankan,” ungkap Laras.

Namun karena sang teman menguatkan hatinya, Laras akhirnya mantap menjalankan rencana awal dan keluar dari sekolah tersebut. Ya, dia rela meninggalkan jabatan dan gaji tinggi demi taat memeluk agama Islam.

Baca Juga :   Kisah Mulia Anggota TNI, Bertahun-Tahun Jadi Guru Ngaji Tanpa Dibayar

“Kawan saya kuliah dulu menguatkan saya. Dia bilang, ‘Kalau sudah ada niat, kenapa enggak dilaksanakan lagi’,” paparnya.

Laras sebenarnya sudah sangat lama ingin menjadi seorang mualaf. Terlebih lagi sang ibu sempat berpesan ingin kembali memeluk agama Islam sebelum wafat. Namun karena ego Laras yang masih tinggi, hal itu tidak bisa terwujud sampai ibunya meninggal dunia.

“Sebelum meninggal, beliau ada menyampaikan ke saya, seperti ingin kembali ke Muslim waktu itu, tapi mungkin karena saya yang dulu masih ego, masih memikirkan kayak nanti orang mikirnya gimana sih sudah tua pindah agama,” cerita Laras.

Sebelumnya dia juga mengalami masalah dalam percintaan. Dirinya sempat menjalin hubungan asmara yang lama dengan pria Muslim. Sayangnya, hubungan itu ditentang oleh keluarga sang kekasih lantaran Laras adalah seorang non-Muslim.

“Dulu ada hubungan pria Muslim, tapi keluarganya enggak bisa menerima saya karena perbedaan agama,” ujarnya.

Namun bukan hal itu yang menjadi alasan Laras ingin masuk Islam. Nyatanya, hubungan mereka pun tidak berlanjut hingga saat ini. Laras juga sudah tidak memikirkan mantan kekasihnya itu.

Dia mantap memeluk agama Islam setelah sering mendengar dakwah di YouTube dan siaran televisi. Selain itu, dukungan teman Muslim-nya pun sangat kuat. Mereka kerap mengajarkan dan menjelaskan semua keraguan yang ada di dalam hatinya dengan begitu tulus.

“Saya banyak simak YouTube, siaran, dan banyak juga berkawan dengan Muslim sharing,” kata Laras.

Di samping itu, salah satu alasan terbesar Laras ingin menjadi mualaf adalah sholat. Laras sangat ingin berdialog dengan Allah Subhanahu wa ta’ala melalui keyakinan penuh ketika sholat. Pasalnya, hal itu tak bisa didapatkan di agama yang sebelumnya dianut.

Baca Juga :   Kisah Mualaf Bule Rusia Temukan Islam hingga Bertemu Jodoh

“Saya jujur kalau ditanya kenapa mau masuk Islam, itu supaya saya bisa sholat, karena saya merasa di agama saya yang lama enggak bisa ibadah,” tutur Laras.

Ia merasakan hal berbeda saat beribadah dalam agama Islam. Dirinya merasa memiliki koneksi yang kuat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Ini adalah perasaan yang telah dicari olehnya sejak lama.

“Saya merasa enggak khusyuk, ketika saya berbicara dengan tuhan kayak enggak ada komunikasi secara religius gitu. Jadi waktu teman saya sholat lima waktu, saya merasa pengin. Jadi kalau ditanya ya cuma saya pengin sholat,” tuturnya.

Awalnya Laras sempat merasa kesulitan karena harus menghafal banyak gerakan sholat. Namun seiring berjalannya waktu, dia menemukan kedamaian dan ketenangan jiwa tersendiri ketika sholat. Laras pun tidak pernah merasa kesepian lagi meski saat ini hanya tinggal seorang diri.

“Sulit pertamanya ketika saya harus menghafal banyak gerakan sholat. Sekarang, saya menemukan kedamaian, dalam arti untuk saya hidup sendiri ketika orangtua saya enggak ada,” terangnya.

Bahkan ketika sedang menstruasi, Laras merasa rindu untuk melakukan sholat. Absen sholat yang dilakukan hanya beberapa hari itu terasa sangat lama bagi Laras.

“Saya ‘dapet’ kok lama sih, sampai saya rindu mau sholat. Alhamdulillah udah merasa itu sih. Gerakannya takut lupa, ada yang ingin diceritakan, ada yang mau diungkapin,” kata Laras.

Laras mengaku pernah menangis tersedu-sedu dalam sholatnya. Padahal, dia tipikal orang yang sulit menangis karena terbiasa menjalani hidup yang keras seorang diri. Namun, kala itu semua unek-uneknya keluar. Tangisnya pun pecah seketika.

“Ada momen saya mengingat orangtua saya, masalah yang saya hadapi, kok belum bisa jadi orang yang baik. Saya sholat waktu itu sempat nangis sekali, aduh saya enggak tahu sih sholat saya diterima atau enggak, tapi saya sudah enggak bisa membendungnya lagi,” jelas Laras.

Baca Juga :   Kisah Mualaf Syavina, Ajakan Murtad Saat Berislam dan Ekonomi Jatuh

Laras merasa agama Islam telah membantunya bangkit dari keterpurukannya. Terlebih, berdoa pun terasa hampa kala itu. Kini dia sudah menemukan jalan keluar atas kekosongan jiwanya, yakni dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

“Saya mau berdoa dan beribadah juga enggak merasa percaya dengan keyakinan saya yang lama, tapi ketika saya masuk Islam, saya bisa mendoakan orangtua saya,” ujar Laras.

Saat ini Laras masih terus memperdalam ajaran-ajaran agama Islam. Dibantu guru ngajinya, Umi dan Abah yang menganggapnya sebagai anak sendiri, Laras belajar banyak hal. Dia hanya berharap bisa segera menutup auratnya dan lancar dalam membaca Alquran dalam waktu dekat.

“Saya pengin bisa ngaji, aamiin. Saya mungkin ke depannya bisa menutup aurat saya, secepatnya mungkin mendapat jodoh yang bisa membimbing saya,” pungkasnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Tags: #angelina larasati #guru #guru tk #Hidayah Islam #kisah mualaf #masuk islam #mualaf #syahadat #tk