Berjalan untuk Dunia, Berlari untuk Akhirat

123 views

Betapa seringnya kita bergegas dalam urusan dunia tetapi tidak bersegera dalam mengejar akhirat. Fisik pun kadang kita paksa untuk terus bekerja mengejar dunia, tetapi teramat santai untuk meraih surga.

Ada di antara kita yang bekerja dari pagi hingga larut malam. Demikian sibuk hingga waktu shalat tertabrak. Bahkan terkadang shalat pun terlewatkan. Sebagian beralasan untuk memenuhi nafkah keluarga di tengah resesi akibat pandemi. Sebagian lainnya mengejar obsesi duniawi padahal kebutuhan sehari-hari sudah tercukupi.

Ada di antara kita yang selalu sigap meninggalkan rumah ketika bos memanggil. Tak peduli anak-anak menginginkan kedekatan, sang ayah segera menunaikan titah pekerjaan. Atas nama kesibukan, mushaf pun tak pernah dibuka. Al-Qur’an tak pernah dibaca.

Contoh lain yang lebih sederhana betapa kita mudah memaksa diri dalam urusan dunia tetapi penuh pemakluman dalam mengejar surga. Jam berapa pun kita tidur, kita bisa bangun dini hari karena ada jadwal penerbangan pertama. Namun, betapa seringnya kita terlewat sholat tahajud karena kesiangan. Dan kita pun beralasan, Allah memaafkan hamba yang kelelahan dan ketiduran.

Kita merasa sangat rugi tertinggal penerbangan. Hilang tiket satu juta rupiah, hilang waktu dan kesempatan dalam bisnis atau proyek pekerjaan. Namun, kita tak pernah merasa rugi saat kehilangan dua rakaat fajar yang lebih baik dari dunia seisinya. Atau qiyamul lail yang menjadi pendekat menuju surga.

Betapa seringnya kita bergegas mengejar dunia. Namun, kita santai-santai dalam mengejar kebahagiaan di akhirat yang kekal selamanya. Padahal Allah telah mengisyaratkan dalam Al-Qur’an bagaimana mengatur langkah. Semakin tinggi tujuan, seharusnya semakin cepat langkah.

Dalam Khutbah Jumat Tahun Baru 2022, ayat-ayat yang mengisyaratkan pengaturan langkah itu dikemukakan. Ketika berbicara tentang upaya meraih rezeki di dunia, Allah menggunakan lafazh famsyuu (فامشوا) yang artinya berjalanlah.

Baca Juga :   Apakah Menantu Berkewajiban Menafkahi Mertua?

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

” Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya … ” (QS. Al Mulk: 15)

Ketika berbicara tentang ampunan, Allah menggunakan lafazh wasaari’uu (فاسعوا) yang artinya bersegeralah.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Ali Imran: 133)

Dan ketika berbicara tentang menuju Allah, Dia menggunakan lafazh fafirruu (ففروا) yang menggambarkan kecepatan sekencang-kencangnya.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

” Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. ” (QS. Adz Dzariyat: 50)

Semoga setelah ini, kita semua bisa memperbaiki diri dan mengatur kembali langkah kehidupan kita. Berjalan untuk dunia, berlari untuk akhirat. Tidak terlalaikan dengan urusan rezeki yang sudah Allah pastikan, lebih bersungguh-sungguh dalam berbekal untuk akhirat yang belum ada jaminan. Dan semoga Allah menjadikan surga sebagai tempat kembali kita nantinya.

 

sumber: bit.ly/3Kesxgx

Tags: #akherat #dunia #mencari nafkah #nafkah #urusan akherat #urusan dunia