Rasulullah Tidak Pernah Netral

92 views

Siapa yang tak kenal Gus Baha, Dai berpenampilan sederhana dengan ciri khas kopiah hitam dan kemeja putih. Beliau kerap menyampaikan tausiyah-tausiyah menyejukkan namun tegas dan kena di hati. Gaya ceramahnya yang lugas tapi santai membuat banyak orang senang dan takzhim padanya.

Gus Baha bernama asli KH Ahmad Bahauddin Nursalim lahir di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, tahun 1970. Beliau merupakan putra seorang ulama pakar Al-Qur’an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA KH Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Rembang, Jawa Tengah.

Ceramahnya sering viral dan banyak diposting di sosial media. Salah satu yang ramai di-upload di saluran Youtube adalah ceramahnya menyoal “sikap netral”. Sedikitnya ada 5 channel Youtube menyiarkan potongan ceramah Gus Baha tersebut. Di antaranya Channel NGAJI LOGIS, Channel Tarbiyah, Channel Darwis Nusantara Jepara, Channel Ngaji Santri, Channel Muhammad Arif, Channel-Sekolah Akhirat.

Dalam ceramahnya, Gus Baha mengatakan dirinya pernah ditanya dan ini adalah kisah nyata. “Gus, yang netral itu baik gak? Semisal ada yang berkelahi, kita tidak ikut mencapuri?”

Kata Gus Baha, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah jadi orang netral. Semisal Musthofa berkelahi sama Rukhin, Nabi pasti membela salah satunya! Nabi tidak punya kebiasaan (menyebut): ‘Gak tau, urusan mereka ini‘.

Karena jika tidak ikut campur, artinya begini, andaikan gajah berkelahi dengan kucing, jika tidak ikut campur berarti ikhlas kucing diinjak gajah, karena gajah pasti menang. Nah, jika Rukhin berkelahi sama Musthofa, dan Rukhin yang salah, dan kamu tidak ikut campur, itu artinya membiarkan kebenaran dan kesalatan itu setara. Padahal tugas Nabi itu Al-Furqon (pemisah antara haq dan bathil)

Makanya Nabi pasti mengambil sikap, membela Musthofa, karena ia benar. Makanya saya setuju, semisal para Habaib ketika memilih harus jelas kalau A ya A, kalau B ya B. Harus menjelaskan!

Misalnya ‘menolak ini’ ya tidak apa-apa dan harus jelas! Meskipun orang lain bisa beda, tapi harus jelas. Misalnya orang Islam di Jakarta menolak A, ya harus menolak A. Ciri utama kebenaran, benar itu benar, salah itu salah!

Ketika kita akhirnya menerima karena konstitusi, itu karena kita orang Indonesia. Tapi ciri utama kebenaran harus bilang: A itu salah, B itu benar. Tidak boleh netral: ‘Ah sama saja”. Gak bisa, nanti perkara haq bisa setara dengan perkara bathil.

Makanya, kata Gus Baha melanjutkan ceramahnya, ciri utama Nabi itu Al-Fariq (pemisah antara haq dan bathil). Al-Qur’an juga Furqan yaitu pemisah antara haq dan bathil.

Tapi tradisi orang Jawa beda, jika tidak ikut-ikutan justru dianggap hebat. Saya gak ikut-ikut. Tidak ikut-ikut bagi orang Jawa itu dianggap bijak. Itu gak bisa. Meskipun kita sebagai orang Jawa tidak punya nyali tampil sebagai Al-Fariq, tapi jangan sampai kita mendukung netral, itu tidak baik,” tutur Gus Baha.

Jika kamu netral itu artinya kamu membiarkan yang bathil setara dengan yang haq. Ciri utama kesalahan ya termasuk itu, orang yang menyejajarkan hukum Allah dengan perkara bathil. Makanya kata Imam Ahmad bin Hanbal : “Jika ada orang akrab dengan tukang bid’ah atau maksiat, saksikanlah bahwa ia orang yang jauh dari Tuhan.

Harus ada perlakuan yang berbeda, ini benar dan ini salah,” tegas Gus Baha.

Jadi solusinya, lanjut Gus Baha, jika secara hukum sosial kita tidak bisa sinis, ini kata ulama solusinya adalah ketika Anda berdoa maka seriuslah (ucapkan) “Assalamu’alaina wa ‘ala Ibadillahis-sholihin” (keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang saleh). Sehingga Allah Ta’ala menyaksikan kita sampai hati kita, bahwa hati kita hanya berkawan dengan mereka yang saleh.

Saya mohon, meskipun Anda tidak bisa harus jadi ekstremis, tapi minimal punya sifat Fariq (pemisah haq dan bathil). Karena ciri kebenaran itu Al-Qur’an dibuat untuk pemisah yang haq dan bathil bagi kalian,” demikian pesan Gus Baha.[eramuslim]

Tags: #al fariq #ceramah agama #fariq #Gus Baha #pemisah haq dan bathil #Rasululllah #sikap netral