Penabuh Bedug Sahur Di Kala Ramadhan, Tradisi Islam Di Kairo

82 views

 

KAIRO – Ramadhan memiliki tradisi salah satunya adalah kehadiran misaharaty atau penabuh bedug. Tradisi tertua dan paling mengakar yang hanya ditemukan selama Ramadhan.

Hal ini juga terjadi di Kairo, Mesir. Penabuh bedug berjalan mengelilingi pemukiman untuk membangunkan orang agar menyantap sahur. Namun, hari ini, tradisi ini tampaknya sedang merosot.

Penabuh bedug biasanya selalu ditemani oleh anak-anak yang senang membantunya menabuh genderang dan berseru: “Bangun, oh lebih cepat dan puji Allah. Ramadhan, bulan pengampunan.”

Biasanya penabuh bedug memulai berkeliling pukul 03:00 subuh dan menabuh hingga tiga kali.

Dia pergi dari rumahnya dan berjalan ke hampir sudut permukiman warga. Saat mencapai depan rumah warga, lalu penabuh drum ini berdiri di depan rumah dan memanggil nama penghuninya.

Karena suara pukulan bedug cukup kuat membuat banyak orang mendengar meskipun jaraknya cukup jauh.

Nah, selama 28 tahun, Sheikh Mohamed Abdel Razik telah meneruskan tradisi ini di jalan-jalan Kairo. “Saat kami bersiap untuk menikmati keajaiban di salah satu malamnya yang biasa,” kata dia menceritakan kisah menjadi seorang penabuh bedug.

 

Orang-Orang Selama Ramadhan Menikmati Manisan

Dikutip dari laman touregypt pada Jumat (5/3/2021), Sheikh Mohamed Abdel Razik menceritakan ketika berusia delapan tahun, orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil di Qena.

“Jadi saya terpaksa pindah dan tinggal di Kairo,” katanya.

Abdel Razik menceritakan ayahnya adalah seorang imam dan penabuh bedug selama Ramadhan. “Dia sangat baik kepada saya, dan dia mengajari saya banyak hal,” bebernya.

Abdel Razik melanjutkan ayahnya selalu mengajari bagaimana membaca Quran dan berdoa. “Selain itu setiap bulan Ramadhan, ayah membawa saya setiap malam keliling untuk membangunkan orang-orang di lingkungan sekitar untuk makan sahur. Saya biasa berjalan dan memanggil nama-nama tetangga kami. Bedugnya cukup keras untuk membangunkan orang-orang di desa berikutnya, tambahnya.

Di Kairo, kata dia, penabuh bedug sangat dihormati di lingkungannya. Dianggap orang bijak karena mampu menghafal semua nama penduduk setempat dan menjadi sangat bermanfaat dalam banyak situasi.

Syekh Ali begitu dikenal semua orang di lingkungannya. Dia pun tahu apa yang dilakukan masing-masing untuk mencari nafkah. Jadi dia membantu pada saat seseorang membutuhkan.

“Ketika saya beranjak dewasa, saya mewarisi pekerjaan dari ayah selain pekerjaan saya sebagai montir mobil. Saya telah melakukannya selama 28 tahun dan saya berharap putra saya melanjutkan sebagai pemukul bedug berkeliling permukiman saat Ramadhan sehingga pekerjaan ini terus berlanjut,” tuturnya.

Meski pekerjaannya bersifat sukarela, namun warga di sekitarnya sering memberi tip kepadanya dengan makanan atau uang tunai ketika Ramadhan selesai.

“Pada hari pertama Idul Fitri (Festival) rumah kami menjadi ramai dengan permen dan uang Idul Fitri karena tetangga kami mengunjungi kami setelah sholat Idul Fitri untuk merayakan Idul Fitri,” sebutnya.

Namun saat ini di Kairo orang banyak menggunakan alarm untuk bangun sahur. Oleh karena itu, pemukul bedug semakin berkurang, meskipun di beberapa lingkungan kehadirannya tetap diperlukan.

Sementara itu Halima Mitwaly, seorang ibu berusia 34 tahun menyayangkan hilangnya tradisi ini.

Penabuh bedug mengunjungi rumah-rumah yang memang perlu penghuninya perlu dibangunkan. “Orang-orang seperti kita ini,” kata dia.

Sekarang ini, orang-orang yang memiliki jam alarm untuk membangunkan sahur tidak membutuhkannya lagi, maka otomatis pemukul bedug tidak akan pergi rumah itu.

“Tetapi jika ingin melihat pemukul bedug bisa saja mengunjungi lingkungan kami setiap hari selama Ramadhan dari balik jendela kami dan di teras kami,” bebernya.

Halima Mitwaly mengatakan tradisi ini begitu kuat sehingga pemukul bedug masih akan terus berlanjut di Kairo, kota dengan banyak keajaiban ini.[m.okzn]

Tags: #Penabuh Bedug Sahur Di Kala Ramadhan #Tradisi Islam Di Kairo