Metode Imam Syafii Mengajar Muridnya Yang Lambat Nangkep

257 views

Setiap anak didik sejatinya membutuhkan perhatian dari sang guru. Perhatian yang dimaksud meliputi otak dan hati. Otak murid diisi dengan penjelasan-penjelasan yang lugas mengenai suatu pokok pelajaran. Sementara itu, hati mereka dicurahi dengan kasih sayang.

Dalam sejarah peradaban Islam, banyak contoh kasus mengenai interaksi guru dan murid yang sukses. Di satu pihak, ada kepandaian, keikhlasan, dan keteladanan guru. Di pihak lain, terdapat mental pembelajar yang mudah merasa ingin tahu (curiosity) serta taat kepada pengajar.

Di antara banyak alim ulama dengan kemampuan pedagogis yang brilian adalah Imam Syafii. Pemilik nama lengkap Muhammad bin Idris bin ‘Abbas bin ‘Usman bin Syaafi’ itu merupakan satu-satunya imam mazhab dari keturunan Quraisy. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang mementingkan ilmu-ilmu agama.

Perjalanannya dalam menuntut ilmu dimulai dari belajar membaca, menulis, dan menghafal Alquran. Alhasil, saat usianya masih tujuh tahun, Imam Syafi’i telah menyelesaikan hafalan 30 juz Kitabullah dengan lancar. Setelah itu, ia meneruskan belajar dengan menghafal berbagai macam syair-syair Arab dan kitab Al-Muwattha’ karangan Imam Malik.

Ketika berada di Makkah, ia berguru kepada Sufian bin ‘Uyainah, salah seorang ahli hadis terkemuka dari generasi tabiit tabiin. Imam Syafi’i pernah memuji kedua gurunya itu, “Kalau bukan karena Imam Malik dan Sufian bin ‘Uyainah, maka akan hilanglah ilmu di Hijaz.”

Belajar dari kehebatan kedua tokoh itu, Imam Syafii pun menjadi pengajar yang sabar dan telaten. Pedagogi yang dijalankannya ialah membimbing dengan kasih sayang, bukan menghakimi. Kisah berikut ini menggambarkan teladan sang imam sebagai seorang guru bagi murid-muridnya.

Seperti diceritakan Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, tersebutlah seorang murid bernama ar-Rabi’ bin Sulaiman. Di antara para siswa yang berguru pada Imam Syafii, dia bisa dikatakan sebagai seorang slow learner. Sebab, kemampuannya dalam menangkap dan memahami pelajaran cukup lamban bila dibandingkan kawan-kawan sebayanya.

Imam Syafii, bagaimanapun, tidak pernah memvonis muridnya. Kepada ar-Rabi’ pun, dia selalu menerangkan pelajaran dengan seruntut mungkin. Memang, penjelasan itu dilakukannya dengan berulang-ulang kali. Ketika siswa-siswanya yang lain sudah bisa mencerna pelajaran, ar-Rabi’ tetap tidak mampu walaupun sang murid terus menerus berupaya.

Sesudah menjelaskan materi, Imam Syafii bertanya kepadanya, “Wahai Rabi’, apakah pelajaran ini sudah kau pahami atau belum?”

“Belum paham, ya Syekh,” jawab Rabi’.

Dengan penuh kesabaran, sang guru pun mengulangi lagi penjelasannya.

“Kalau sekarang, apakah kau sudah memahaminya?” tanya ulama peletak dasar salah satu mazhab fikih itu.

“Belum,” kata Rabi’ dengan suara pelan.

Maka Imam Syafii kembali mengulangi penjabarannya mengenai matapelajaran itu. Hal itu dilakukannya bahkan sampai 39 kali. Sayangnya, murid yang slow learner ini tak kunjung mengerti pokok-pokok pelajaran yang disampaikan sang guru.

Saat itu, Rabi’ seakan-akan tidak kuat mengangkat wajahnya sendiri. Ia merasa telah mengecewakan gurunya dan juga sangat malu. Ketika Imam Syafii menjawab pertanyaan seorang murid lainnya, ia pun beringsut pelan-pelan keluar dari majelis. Dengan bersedih hati, pemuda tersebut berjalan pulang ke rumahnya.

Baru setengah jalan, Rabi’ mendengar sebentuk suara menyerukan namanya. Ternyata, Imam Syafii memanggilnya kembali. Ia pun berupaya mengumpulkan keberanian yang tersisa dalam dadanya untuk sekadar mendekat lagi ke masjid.

Rabi’ bersyukur dalam hati karena sang guru tidak menunjukkan rasa kesal atau frustrasi kepadanya. Justru, Imam Syafii berkata dengan lembut kepadanya, “Kemarilah, ikutlah bersama saya ke rumah.”

Rabi’ menurut saja. Barulah ketika sampai ke rumah Imam Syafii, ia menyadari bahwa guru yang amat dihormatinya itu akan memberikan pelajaran kepadanya secara privat. Sang imam sebagai seorang pendidik begitu memahami perasaan muridnya.

Maka siang bakda zuhur itu, Imam Syafii terus mengajarkan Rabi’ pelbagai matapelajaran yang tidak dipahaminya. Berkali-kali ulama kelahiran Palestina ini menerangkan. Di tiap akhir penjelasan, Rabi’ selalu ditanya, “Apakah kau sudah paham atau belum?”

Ternyata, Rabi’ bin Sulaiman tidak paham-paham. Hampir menangis dirinya untuk mengakui bahwa pelajaran yang dijelaskan gurunya itu belum juga dimengertinya. Sampai di sini, apakah Imam Syafii gusar atau berputus asa? Apakah pemuda tersebut akan dihakiminya sebagai murid yang bodoh?

Tidak sama sekali. Ketika menjelang waktu ashar, Imam Syafii berkata kepadanya, “Wahai muridku, sebatas inilah kemampuanku dalam mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, berdoalah kepada Allah agar berkenan mencurahkan ilmu-Nya untukmu. Tugasku hanya menyampaikan ilmu. Hanya Allah yang memberikan ilmu. Seandainya ilmu yang kuajarkan ini adalah sesendok makanan, pasti sudah kusuapkan ini kepadamu.”

Nasihat tersebut begitu terpatri dalam benak Rabi’. Sejak itu, remaja ini sangat rajin bermunajat kepada Allah. Ia berdoa agar Allah menganugerahkan kepadanya kekhusyukan serta daya tangkap dalam memahami pelajaran-pelajaran. Tidak hanya itu, di majelis pun dirinya kian sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

Petuah Imam Syafii berbuah pembiasaan pada diri sang murid. Pemuda itu menjadi terbiasa bersungguh-sungguh serta berdoa dengan ikhlas. Hasilnya?

Sejarah mencatat, ar-Rabi’ bin Sulaiman akhirnya menjadi salah seorang ulama besar dalam madzhab Syafii. Bahkan, dia termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dalam periwayatannya.[REP]

Tags: #Metode Imam Syafii Mengajar Muridnya Yang Lambat Nangkep