Memba5m1 Ter0r1sme dengan Ter0r

153 views

Terberitakan bahwa Densus 88 akan melakukan penangkapan kembali. Kini target disebut-sebut dua sosok populer dan eksis di TV. Seorang akademisi lainnya politisi. Pihak kepolisian masih merahasiakan identitasnya. Rencana penangkapan ini dikaitkan dengan keterlibatan dalam jaringan Jama’ah Islamiyah (JI).

Sebelumnya tiga ulama Farid Okbah, Anung Al Halmat, dan Ahmad Zein ditangkap juga dengan tuduhan yang sama terlibat Jama’ah Islamiyah (JI). Bergeser dari status sebagai Dewan Syuro menjadi penggalang dana. Tetap publik tertutup dari informasi yang jelas dan sesungguhnya. Isu ter0r1sme menjadi “alasan pembenar” untuk menutup akses. Prinsip negara hukum telah lama tercederai.

Dengan target 2 tokoh yang dipublikasikan akan ditangkap tanpa penjelasan baik nama maupun tindakan ter0r yang dilakukannya adalah sebuah ter0r. Apalagi sekedar sinyal liar. Publik dibuat menduga-duga dan mencurigai sesama. Densus 88 menjadi lembaga pemberantasan ter0r1sme dengan cara ter0r. Perlu evaluasi dan koreksi.

Jama’ah Islamiyah (JI) adalah hantu yang menakutkan atau dibuat untuk menakut-nakuti. Organisasi atau aktivis da’wah tidak banyak mengenal Jama’ah yang konon “berjuang untuk Islam” ini. Makhluk apakah ia. Pengamat ter0r1sme hanya mampu bercerita tentang indikasi hingga mutasi tanpa bersambung dengan pengetahuan dan perasaan publik tentang keberadaannya sebagai kelompok “pejuang Islam”.

Sebagai upaya pencegahan sebaiknya Pemerintah membuka ke ruang publik seluas-luasnya tentang keberadaan Jama’ah Islamiyah baik struktur, program, pimpinan dan personal yang ada di dalamnya. Sejauh mana dasar hukum yang melandasi sebagai organisasi ter0r1s. Pengetahuan Pemerintah, khususnya Densus 88, tentu sudah sangat dalam. Ungkapan pengamat bahwa JI telah berubah menjadi organisasi da’wah dan kemanusiaan perlu mendapatkan klarifikasi.

Jika tetap berbahaya jelaskan bahayanya sehingga masyarakat atau umat Islam mewaspadai, jangan sampai terjebak atau Jama’ah Islamiyah (JI) oleh pihak tertentu dijadikan jalan atau sarana untuk menjebak. Di masa Orde Baru dahulu muncul berbagai organisasi militan ‘buatan’ yang digunakan untuk menjebak. Dalam konteks global Al Qaeda dan ISIS juga bukan murni organisasi perjuangan umat Islam. Banyak pihak yang ikut bermain.

Baca Juga :   Jika Orang Jahat Berkuasa, Rasulullah Minta Umatnya Hindari 4 Profesi Ini

Nah, ancaman bahwa akan ada dua tokoh akademisi dan politik yang akan ditangkap oleh Densus dengan tuduhan ter0r1sme adalah tidak sehat. Kualifikasi ter0r1s atau tindakan ter0r1sme harus berbasis hukum dan perundang-undangan. Bukan bersandar pada kepentingan politik, apalagi sekedar posisi seseorang sebagai tokoh oposisi.

Indonesia adalah negara ber-ketuhanan YME dan ber-kemanusiaan yang adil dan beradab. Negara demokrasi dan negara hukum bukan negara kekuasaan. Negara berdaulat yang tidak boleh tunduk pada kemauan dan pemaksaan global. Ter0r1sme global baik otonom maupun dikendalikan oleh negara harus diantisipasi.

Kita sebagai bangsa yang cinta damai setuju memberantas ter0r1sme akan tetapi penanganan harus dengan berbasis hukum, keadilan, dan kemanusian. Tidak memberantas ter0r1sme dengan cara ter0r. Sebab jika demikian, apa bedanya ?

 

sumber: https://fnn.co.id/2021/12/04/membasmi-terorisme-dengan-teror/

Tags: #Densus #Densus 88 #Densus 88 Antiteror #membasmi teroris #polisi #POLRI #teror #teroris