Kontribusi Islam Dalam Akurasi Konstanta ” Pi “

186 views

 

Dalam matematika, istilah pi sudah tidak asing lagi didengar. Apalagi jika hendak mengukur keliling sebuah lingkaran.

Pi merupakan konstanta untuk menghitung ukuran, luas, dan volume pada lingkaran, bola, dan kerucut. Perlu diketahui, Islam berkontribusi dalam akurasi konstanta pi.

Dekan Institut Sejarah Ilmu Pengetahuan Arab di Aleppo Suriah, Profesor Moustafa Mawaldi mencatat kontribusi Islam tersebut terjadi antara tahun 800 sampai 1500 Common Era (CE). Kontribusi itu termasuk adanya Bapak Aljabar Muhammad al-Khwarizmi.

Dia adalah seorang matematikawan dan penulis Al-Quhi. Selain al-Khwarizmi, ada pula sarjana Polymath, Abu al-Rayhan al Biruni dan Jamshid al-Kashi.

Berdasarkan sejumlah karya seperti Archimedes dari Yunani dan Astronom India Brahmagupta dan Aryabhata, Muslim lebih jauh menyempurnakan akurasi dari pi. Yang paling menonjol, yaitu karya Muslim Persia al-Kashi pada 1380-1429 CE. Dia menghitung sendiri nilai pi yang diketahui ke tempat desimal ke-16, jauh melebihi upaya dari semua ilmuwan pada masa itu.

 

Penggunaan modern pi

Pi penting bagi ilmuwan modern yang mempelajari benda-benda planet dan pesawat ruang angkasa. Dengan pi, dapat ditentukan rotasi objek melingkar.

Misal, di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di Kalifornia, pi berguna bagi Kepala Teknisi dan Direktur Misi Marc Rayman untuk menjalankan misi pesawat ruang angkasa NASA Dawn. Pada 6 Maret 2015, pesawat ruang angkasa NASA Dawn mulai mengorbit planet kerdil Ceres.

Untuk menghitung lama waktu fajar mengorbit Ceres pada ketinggian tertentu membutuhkan nilai pi yang akurat. Ahli Kimia Planet dan Astrobiologi JPL Steve Vance juga menggunakan pi untuk menghitung volume hidrogen laut di salah satu satelit Jupiter, yakni Europa.

Dilansir About Islam, pada sekitar 800 CE, Muhammad Al-Khwarizmi menawarkan penjumlahan pi yang luar biasa dan masih berlaku sampai sekarang. “Ini adalah perkiraan bukan bukti. Tidak ada yang berdiri di atas kebenaran ini dan tidak ada selain Allah yang mengetahui keliling lingkaran yang sebenarnya. Karena garisnya tidak lurus dan tidak memiliki awal dan akhir. Kami hanya berusaha memperkirakan dan menemukan akarnya. Namun, akar tidak memiliki definisi karena tidak ada yang tahu nilai pastinya selain Allah dan yang terbaik dari perkiraan ini adalah mengalikan diameter dengan tiga dan ketujuh karena lebih cepat dan lebih sederhana. Hanya Allah SWT tahu itu benar.”[REP]

Tags: #Kontribusi Islam Dalam Akurasi Konstanta Pi