Kisah Jiwa-Jiwa Penuh Empati di Tengah Pandemi

156 views

Kaum ibu duduk di beranda rumah. Masker menutupi wajah. Tapi tidak menutup empati yang keluar dari dalam diri. Mereka memandang seksama, sebuah catatan di selembar kertas. Percakapan mengalir tanpa henti. Ini pembicaraan soal naluri.

Beberapa pekan terakhir mereka rutin bertemu. Bermufakat untuk kepentingan maslahat. Meringankan beban tanpa pamrih. Berharap mereka yang sakit lekas sehat dan pulih.

“Kalau tidak kita siapa lagi,” cerita Kepala Desa Bedoro, Pri Hartono, kepada merdeka.com, beberapa waktu lalu.

Setahun lebih terkurung dalam Pandemi Covid-19. Membuat hidup banyak orang makin sulit. Jutaan jiwa terpapar. Ribuan nyawa jadi korban. Kondisi ini menggugah hati kaum ibu di Desa Bedoro, Sragen, Jawa Tengah. Atas nama kemanusiaan, mereka memberi waktu, tenaga, bahkan uang. Demi meringankan beban warga kesusahan. Walaupun hidup mereka juga pas-pasan.

Di dapur salah satu warga, ibu-ibu itu meracik makanan. Untuk diberikan pada warga menjalani isolasi mandiri alias isoman. Tak mewah, tapi menyehatkan. Mereka berbagi tugas. Sejak pagi, bahan makanan akan dimasak disiapkan. Kemudian diolah dan dibagikan ke rumah warga yang menjalani isoman.

Pandemi membuat manusia terpuruk. Tapi tidak dengan kemanusiaan. Satu hal patut disyukuri. Kokohnya sifat berbagi. Tangan-tangan baik berbagi rezeki. Tak berharap kebaikan segera berbalas. Niat murni, menolong sesama dengan kemampuan yang ada.

Ade dan istrinya meyakini satu hal. Kesehatan yang diberikan Tuhan sebagai pertanda. Mereka diberi kesempatan menjalani hidup penuh arti. Membantu mereka yang kesulitan. Menyisihkan rezeki untuk berbagi. Ade membeli sembako untuk dibagikan ke warga tak mampu. Mereka yang hidupnya makin pelik karena Pandemi tak kunjung usai.

“Ada sedikit usaha dan rezeki saya sisihkan (untuk berbagi),” beber Ade, perantau asal Sukabumi.

Personel Polda Sulsel ini selalu ingat pesan ayahnya. Ada hak orang lain di setiap rezeki yang mengalir. “Itu yang saya pegang teguh dari awal saya datang ke Sulsel,” kenangnya.

Hidup harus punya arti. Gerakan berbagi terbukti mampu membangkitkan energi. Itu yang diyakini pasangan suami istri di Bali. Lewat gerakan ‘akuforbali’, Satya Wibhawa mengajak banyak orang menjadi relawan. Menyiapkan makanan hingga sembako, bagi mereka yang tergilas pandemi. Semakin besar jiwa yang berempati, semakin banyak orang lepas dari jerat kelaparan akibat sepinya wisata Bali hari ini.

“Ada atau tidak ada (donasi), kita akan tetap jalan,” kata Satya.

Orang Baik Ada di Setiap Kesulitan

Patut dibanggakan. Jiwa sosial masyarakat Indonesia masih begitu kuat dirasakan. Kesulitan negeri saat ini tidak membuat orang antipati. Justru melahirkan jiwa penuh simpati. Mereka bergerak dengan cara sendiri. Tak pandangan usia dan latar belakang ekonomi. Atas nama kemanusiaan, datang memberi pertolongan.

Seperti cerita Esveranss. Modalnya membangun gerakan sosial hanya keyakinan. Selalu ada orang baik, di balik setiap kesulitan. “Kami sangat senang dengan bantuan masyarakat, kepedulian terhadap sesama sangat besar,” kata dia.

Anak muda ini mengandalkan teman lingkarannya. Merawat gerakan sosial. Agar terus tumbuh, demi keselamatan banyak orang. Dari gerakan sosial ini, mimpi Esve sangat sederhana. Membangun dapur umum agar dia bisa memasak lebih banyak untuk mereka yang membutuhkan.

“Itu mimpi saya dan saya yakin bisa terwujud,” harap dia.

Rasa optimistis itu pula yang dijaga Niki Suryaman dan rekan-rekannya. Sedikit demi sedikit, donasi dikumpulkan. Ribuan makanan sudah dibagikan kepada yang membutuhkan. Termasuk warga menjalani isolasi mandiri setelah terpapar Covid-19. Kendala dan masalah selalu ada. Tetapi, selalu diikuti dengan solusi.

“Kami berpegang pada prinsip bahwa kondisi krisis bisa terjadi pada siapapun. Kita tidak bisa bertahan atau melewatinya kalau tidak bareng-bareng,” kata Niki.

Niat membantu sesama ini tidak hanya muncul dari masyarakat biasa. Pengusaha hingga kalangan artis turut serta. Artis Lola Amaria berbagi cerita. Berbekal keahlian memasak, Lola Amaria mengajak karyawan menebar kebaikan. Lola menggagas ide bagi-bagi makanan untuk tenaga kesehatan. Juga para petugas penggali makam. Tak lupa, petugas ambulans dan warga sedang isolasi mandiri. Semua diambil dari kantong pribadi.

“Merekakan kerjanya non-stop. Itu target utamanya di 10 hari ini,” kata Lola.

Khusus bantuan untuk warga isolasi mandiri, Lola bekerja sama dengan ketua RT. Sehingga terkoordinasi dan lebih teratur. Bantuan harus tepat sasaran. Diterima oleh mereka yang membutuhkannya. “Nanti sama pihak RT dibagikan ke warga yang isoman di rumah,” kata Lola.

Saling Bantu Manusia

Cerita kebaikan tak pernah ada habisnya. Gerakan berbagi tak hanya soal bahan makanan atau panganan siap saji. Obat herbal, vitamin hingga alat kesehatan dibutuhkan.

Covid-19 memang belum ada obatnya. Tapi sekadar penguat imun, tak ada salahnya. Nurul Arifin menggagas gerakan ‘imun booster’. Bagi warga Jombang dan sekitarnya. Imun booster berupa rempah-remah yang diracik menjadi jamu. Diminum untuk menjaga daya tahan tubuh. Obat tradisional itu dibagikan cuma-cuma. Kecuali, ada permintaan dari luar kota. Hanya sekadar mengganti ongkos kirim.

“Gratis, semuanya kita bagikan gratis,” ujar pria yang berprofesi sebagai trader saham ini.

Selain berbagi jamu dan prebiotik, pria yang akrab disapa Bajoel ini juga punya cara sendiri untuk ‘imun booster’. Dia memproduksi konten jenaka di media sosialnya. Konten humor ala pemuda NU itu dibagikan melalui media sosial.

“Yang penting tidak hanya kesehatan fisik, tapi kesehatan mental psikologis juga turut kita jaga,” katanya.

Naluri kemanusiaan hadir dalam berbagai wujud dan bentuk. Ada segudang cara. Banyak jalan mewujudkannya. Sekecil apapun, sangat berarti dalam penanganan pandemi.

Langkanya tabung oksigen di rumah sakit, menggerakkan Aldi Haryopratomo dan timnya. Padahal, oksigen menjadi senjata utama yang dibutuhkan pasien melawan ganasnya virus dalam tubuh. Keresahan Aldi berbuah lahirnya website wargabantuwarga.com. Mempertemukan antara kebutuhan dengan jalan kebaikan. Warga bisa saling terhubung. Tak hanya memberi informasi. Tapi juga donasi.

“Kita berharap kita bisa menjadi tempat, di mana semua orang yang ingin membantu, baik itu berupa waktu, donasi atau apapun itu, itu bisa dihubungkan dengan orang yang butuh bantuan. Dan orang yang butuh bantuan itu bisa dikoneksikan dengan informasi yang mereka butuhkan. Bisa tempat oksigen, ambulans, antrean rumah sakit, dan lain sebagainya,” kata Aldi.

Ragam gerakan sosial semakin menunjukkan satu hal. Masyarakat Indonesia masih menyimpan jiwa sosial tinggi. Meski pandemi membuat banyak orang kesulitan. Tetapi memastikan tak ada yang mati kelaparan adalah hal utama.

Sosiolog dari Universitas Nasional, Sigit Rochadi, mengamini. Masyarakat Indonesia memiliki modal sosial kuat. Energi kebaikan bangkit, naluri gotong royong membesar. Beriringan dengan beratnya beban masyarakat.

“Setiap masyarakat di negara kita itu mempunyai budaya untuk tolong menolong budaya untuk gotong royong, budaya seperti itu mudah sekali dibangkitkan pada saat masyarakat menghadapi krisis,” kata Sigit.

Gerakan solidaritas sudah terlihat sejak awal pandemi pada tahun 2020. Masih tersimpan dalam ingatan, saat kebaikan hadir di depan pagar atau pekarangan rumah. Aksi kemanusiaan semakin tinggi ketika Negara terlihat mulai kewalahan. Warga yang saling bantu, sedikit meringankan beban pemerintah.

Dia mencontoh di lingkungan kampus. Ada gerakan menolong mereka yang tidak mendapatkan tempat tinggal karena dicurigai terpapar Covid-19. Kalangan terdidik turun tangan, menyediakan tempat tinggal. Para relawan juga menyediakan makanan.

“Kebersamaan tetap ada karena kita punya modal sosial yang kuat untuk bangkit,” katanya.

Jiwa-jiwa yang penuh empati tak akan pernah mati. Asalkan dirawat dan dijaga selamanya. Tak dipungkiri, empati hanya bisa menjadi sebuah aksi jika ada peran inisiator gerakan. Baik mereka yang mengikhlaskan harta ataupun tenaga.

Masih banyak yang terlunta dan berjuang untuk bertahan. Jalan masih panjang. Tak ada yang bisa menerka berapa lama. Terus menjaga asa, sambil berjalan dalam kemanusiaan.

“Jika energi penggerak merosot, gerakan akan merosot,” tutup Sigit.[merdeka]

Tags: #Kisah Jiwa-Jiwa Penuh Empati di Tengah Pandemi