Kisah dr Karina, Penemu Terapi aaPRP Sembuhkan Pasien Covid-19

231 views

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi Covid-19. Selain disiplin menerapkan protokol kesehatan dan melaksanakan vaksinasi, kini ditemukan terapi aaPRP yang dapat menyembukan pasien Covid-19. Terapi aaPRP ini ditemukan dr Karina.

Dokter Karina adalah lulusan S3 Universitas Indonesia (UI). Dokter cantik ini mulai melaksanakan uji coba terapi aaPRP tahap pertama sebanyak 10 orang, tahun lalu. Tahun ini, dr Karina melanjutkan dengan uji coba tahap dua sebanyak 20 orang.

Semuanya sudah berhasil dilakukan. Semua pasien uji coba adalah mereka yang sudah kelas berat. Yang sudah pakai alat bantu pernapasan.

Hasil menggembirakan itu dia tulis dan dipublikasikan di delapan jurnal internasional. Di jurnal itu, dr Karina juga mengulas kemampuannya dalam menurunkan D-Dimer.

Apa Itu Terapi aaPRP?

Selama ini yang dikenal hanya terapi PRP (platelet-rich plasma). Terapi PRP banyak digunakan dalam dunia kecantikan. Sedangkan terapi aaPRP yang ditemukan dr Karina merupakan yang pertama di dunia.

Karina menambahkan ‘aa’ di depan ‘PRP’ agar terapi ini tidak diasosiasikan dengan terapi kecantikan.

Karina membeberkan cara pembuatan aaPRP untuk pasien Covid-19. Awalnya, darah pasien diambil sebanyak 20-25 cc dengan cara seperti ambil darah untuk cek laboratorium.
“Trombosit dari darah pasien Covid-19 sendiri dipisahkan, lalu dipecahkan di laboratorium khusus milik HayandraLab. Hasilnya, protein yang keluar dari trombosit dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien melalui cairan infus.

Proses itu membutuhkan waktu sekitar 2 jam hingga 3 jam.

Teknik aaPRP aman digunakan untuk usia berapa pun dengan berbagai kondisi kesehatan, karena aaPRP dari tubuh sendiri dan tidak diproses dengan zat yang berasal dari hewan.

Terapi aaPRP dilakukan sesuai dengan keadaan pasien. Bagi pasien OTG (orang tanpa gejala) dan ringan, cukup satu kali terapi, maka langsung negatif Covid.

Sedangkan pasien berat dan kritis yang sudah dibantu pernapasan di ICU, bisa diterapi terapi 3-5 kali terapi.

“Jarak pemberian aaPRP bisa setiap hari atau selang satu hari, tergantung seberapa cepat pasien membaik,” ucapnya.

Siapa dr Karina?

Karina adalah dokter ahli bedah plastik. Ia lulusan S1, S2, dan S3 Universitas Indonesia. Ia meraih gelar doktor di usia 45 tahun pada 2019 lalu.

“Karina kini bukan hanya ahli bedah plastik. Dia saya anggap sudah menjadi ilmuwan penting yang harus diperhatikan Indonesia. Tinggal kita mau atau tidak. Kita cukup rendah hati atau tidak untuk mengakui kehebatan orang lain,” kata mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, dalam tulisannya berjudul ‘Harapan Karina’.

Suami Karina juga lulusan UI, dokter ahli kandungan. Ibu Karina dokter ahli kulit.

Karina sudah memiliki hak paten, bagaimana bisa mendapatkan 1,5 miliar stemcell dari lemak pasien. Dia lah yang menemukan bagaimana caranya dan pakai enzim kadar berapa.

Selama ini dr Karina memang sudah dikenal sebagai ahli PRP. Ia bisa mempermuda wajah wanita lewat PRP.

Dari situlah dr Karina akrab dengan persoalan trombosit dalam darah. Dia terus melakukan penelitian. Dia tipe dokter yang tidak mau berhenti sebagai ilmuwan. Karina sudah punya lab dan klinik sendiri, namanya Hayandra.

Nama itu diambil dari singkatan nama tiga anaknya, yakni Hanif, Jan, dan Nandra. Lab milik Karina adalah satu yang terbaik di jenisnya di Indonesia. Dari penelitian itu dr Karina tahu bahwa trombosit itu kalau ”dikupas” isinya protein.

Yakni protein dari berbagai jenis. Ada protein antibiotik, anti inflamasi, protein penumbuh, protein anti bakteri, dan banyak lagi. Total lebih dari 1.000 jenis protein yang ada di dalam trombosit.

Ketika dr Karina melihat begitu banyak penderita Covid yang meninggal dunia, dia pun ingat: mengapa kandungan protein di dalam trombosit itu tidak dimanfaatkan. Kan bisa untuk menyembuhkan pasien Covid.

“Isi trombosit itu sudah seperti apotek besar,” ujar dr Karina.[pojoksatu]

Tags: #Kisah dr Karina #Penemu Terapi aaPRP Sembuhkan Pasien Covid-19