Kiat Menanamkan Kecintaan Terhadap Allah Pada Anak Balita

218 views

 

Dalam sebuah ruang tanya jawab di laman About Islam, ada seseorang yang menanyakan perihal bagaimana membuat anak perempuannya yang berusia tiga tahun mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lulusan dari American University di Kairo, Mesir, yang turut berpartisipasi secara aktif dalam seminar Masalah Keluarga dan Orang Tua, Mona Younes menyatakan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap Allah Ta’ala kepada anak dari usia sedini mungkin.

“Sangat penting di usia dini ini untuk menunjukkan dengan tepat berkah dan karunia Allah. Sekali lagi, ini harus terjadi, dalam konteks rutinitas kehidupan sehari-hari. Ini bisa dilakukan dengan sangat mudah,” kata Younes yang kini tengah menyelesaikan pendidikan Magister di University of Southern Queensland (USQ).

“Tahukah Anda mengapa kami bisa mendengar? Karena Allah memberkati kita dengan telinga. Tanpa Berkat-Nya, kita tidak akan bisa mendengar, melihat, mencium, atau bernapas. Biarkan putri Anda mendengar detak jantung Anda, mencium aroma mawar dan bunga, menyentuh air yang mengalir dan membedakan antara permukaan yang halus dan permukaan yang berbatu,” lanjutnya.

Younes menyatakan pentingnya memperkenalkan konsep tidak hanya pada keberadaan Allah, tetapi fakta Dia adalah Pencipta alam semesta dan seisinya. Hanya lewat Kehendak-Nya membuat sesuatu terjadi atau tidak terjadi.

Dialah yang memberi manusia uang, makanan, orang yang tercinta, dan berhenti melakukan hal-hal buruk sehingga Allah mencintai manusia dan memberi hadiah dengan surga. Artikel yang baru-baru ini diterbitkan oleh Dosen di University of Western Sydney Hanan Dover menyatakan fakta menarik yang sering tidak diketahui oleh orang tua adalah 90 persen otak anak berkembang selama lima tahun pertama kehidupannya.

Waktu perkembangan otak bayi sangat penting untuk mempersiapkan kecerdasan, stabilitas emosional, dan kepribadian anak. “Dengan kata lain, otak belum berkembang sempurna saat anak lahir, berbeda dengan organ lain. Inilah sebabnya, selama lima tahun pertama perkembangan anak, terdapat pengaruh yang sangat besar yang dapat dimiliki oleh pengasuhnya (orang tua atau lainnya) terhadap perkembangan emosional dan psikologisnya. Bukankah fakta ilmiah ini mengingatkan Anda pada sesuatu? Ini mengingatkan kita pada hadits Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam,” ucapnya.

Dalam hadits Bukhari disebutkan, “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani”.

Hal ini menunjukkan seberapa besar pengalaman, perkembangan dan karakter anak dibentuk, dan dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya selama masa kecilnya. Itulah mengapa begitu penting berinteraksi dengan anak secara positif, dengan cara yang sesuai dengan kebutuhannya sebagai seorang anak.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan orang-orang di sekitar anak berbicara dengannya, bermain, bernyanyi, dan bercerita. Hal ini karena melalui tindakan ini orang tua dapat mengajar apa pun yang abstrak dengan cara yang sangat sederhana namun efektif.

Ini penting, karena berbicara, bermain, bernyanyi, mencintai, peduli, mendongeng, dan hidup bersama dengan penuh gairah insya Allah akan membawa anak yang sehat berkembang secara emosional. Yang harus Anda lakukan hanyalah mencoba mengubah semua konsep abstrak (Allah, Pencipta, Kehendak-Nya, Berkah-Nya) sambil melakukan semua tindakan sebelumnya. Anak-anak pada usia tersebut tidak membutuhkan aktivitas akademis atau pendidikan yang berlebihan (dalam arti bersekolah) untuk mengembangkan otaknya.

“Mereka perlu diasuh, dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka,” ucapnya.

Berikut ini sekumpulan contoh yang dapat dilakukan oleh orang tua.

 

Allah, Sang Pencipta

Dia mengungkapkan, jika Anda ingin ‘mengajari’ putri kecil Anda yang berusia tiga tahun tentang Allah sebagai Pencipta dan semua orang, berjalanlah bersamanya di taman dan kagumi keindahan bunga. Dalam konteks yang sangat alami, tersenyumlah dan secara spontan, katakan, “Masya Allah, betapa indahnya bunga ini”.

Lihatlah matahari dan hubungkan penciptaannya dengan Allah. “Maasya Allah, seberapa besar samudera, laut, matahari, langit. Allah adalah Penciptanya, Allah Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Mampu dan Maha Penyayang”.

Ini harus terjadi dalam konteks kehidupan sehari-hari yang biasa. Saat membuka jendela dan merasakan angin sepoi-sepoi memasuki ruangan, dan lainnya, “Masya Allah, alangkah Agung dan Penyayang Allah. Hanya Allah, yang dapat menciptakan keindahan, kesempurnaan seperti itu”.

 

Berkat Allah

Dia mengungkapkan, sangat penting pada anak usia dini untuk menunjukkan dengan tepat berkah dan karunia Allah. Sekali lagi, ini terjadi dalam konteks rutinitas kehidupan sehari-hari. Ini bisa dilakukan dengan sangat mudah.

“Tahukah Anda mengapa kita bisa mendengar? Karena Allah memberkati kita dengan telinga. Tanpa Berkat-Nya, kita tidak akan bisa mendengar, melihat, mencium, atau bernapas”.

Selalu, jelaskan seperti apa rasanya tanpa setiap berkat, betapa mengerikan jadinya, jika manusia tidak bisa mencium? Tidak dapat membedakan antara susu segar dan susu asam, dan sebagainya.

 

Allah dan Amal Perbuatan

Younes menjelaskan, begitu penting mengasuh anak-anak dengan semangat dan cinta kepada Allah. Anak-anak berusia tiga tahun tidak dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.

Oleh karena itu, terserah pada orang tua untuk memelihara emosi mereka dengan cara yang bermanfaat dan membantu. Salah satu cara melakukannya adalah dengan mengaitkan amal baik dengan Kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Kepuasan-Nya.

Misalnya, Allah mencintai orang yang menghormati dan menaati orang tuanya. Atau Allah sangat senang dengan anak ketika dia mengerjakan pekerjaan rumah sehingga dia dapat belajar karena Allah menyukai ciptaannya untuk mendapatkan ilmu melalui pendidikan.

“Akhirnya, jangan lupa untuk berdoa, semoga Allah memberkati anak kecil Anda dengan pemahaman yang benar, iman yang kuat dan cinta sejati serta semangat terhadap Allah dan Islam,” kata Younes.[REP]

Tags: #Kiat Menanamkan Kecintaan Terhadap Allah Pada Anak Balita