Inilah Alasan Rasulullah Selalu Menjaga Perut Tidak Kenyang

115 views

Makan, sesungguhnya jelas tak sekadar penghalau rasa lapar. Bahkan saat ini. Makan jadi bagian dari gaya hidup serta tujuan kesenangan serta gengsi. Karena itu tempat-tempat makan prestisiuspun tak pernah sepi dari pengunjung. Malahan, ada yg memesan kursi jauh sebelumnya.

Tidak ada bejana yang diisi anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam untuk menegakkan tulang punggungnya. Sepertiga perutnya untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR At Tirmidzi).

Walau macam santapan yg dimakan halal adanya, tetapi berhati-hatilah saat batas proporsional tak lagi diindahkan. Allah berfirman, ”Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih lebihan.” (QS al-A’raaf [7]: 31).

Dikisahkan Nabi Yahya AS berjumpa iblis yg sedang membawa alat pancing. Bertanya Yahya AS, ”Untuk apakah alat pancing itu?” ”Inilah syahwat untuk mengail anak Adam.” ”Adakah padaku yg dapat kau kail?” Iblis menjawab, ”Tidak ada, hanya pernah terjadi pada suatu malam engkau makan agak kenyang hingga kami dapat menggaet engkau sehingga berat untuk mengerjakan shalat.” Yahya AS terkejut. ”Kalau begitu aku tak akan mau kekenyangan lagi seumur hidupku.

Kekenyangan menjadikan badan menjadi malas bergerak. Mengerjakan ibadah jadi berat sampai-sampai gampang bagi iblis membisikkan tipu dayanya. Tanpa kita sadari otakpun jadi tidur, badan menjadi gemuk, lemak menumpuk.

Imam Ghazali mengutip ucapan Abu Bakar Shiddiq RA di dalam hal ini, ”Sejak aku memeluk Islam, belum pernah aku mengenyangkan perutku karena ingin dapat merasakan manisnya beribadah, dan belum pernah aku kenyang minum karena sangat rindunya aku pada Ilahi.

Jelaslah mengapa Alquran dengan lantang membenci tindakan berlebih-lebihan, di dalam hal ini banyak makan (kekenyangan). Di samping dari sisi kesehatan gara-gara banyak makan tentu dapat menyebabkan berbagai penyakit, banyak makan memberatkan pula seseorang untuk beribadah serta lebih celaka lagi, akan mematikan hati nurani.