Ilmu Anatomi Manusia Tumbuh Pesat di Tangan Ilmuwan Muslim

66 views

Selama Abad Pertengahan, perkembangan pemikiran rasional, penelitian dan perkembangan ilmu di Eropa lumpuh di bawah tekanan otoritas gereja.

Bahkan, anatomi sebagai dasar ilmu kedokteran saat itu tidak dikenal dengan baik karena dihalangi gereja.

Pakar Anatomi Konsultan PA(K) dari Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (PAAI), dr Muhammad Manshur Romi, mengatakan pada saat Eropa dirundung abad kegelapan, ilmu kedokteran justru tumbuh subur di Semenanjung Arab, terutama di Baghdad yang dikembangkan para ilmuan Muslim, seperti Muhammad Ar Razi, Ibnu Al Haitham, Ibnu Sina, Ibnu An Nafis, dan Mansur ibn Ilyas.

“Anatomi manusia itu dulu tidak dikenal baik karena kesempatan untuk mempelajari lebih dalam tentang tubuh manusia itu dihalangi oleh gereja. Sementara, pada zaman Abad Pertengahan itu justru di Timur Tengah sangat maju,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Harian Republika.

Dokter kelahiran Cilacap 10 Agustus 1956 ini menjelaskan, para penguasa di Alexandria juga sangat menghargai perkembangan ilmu, sehingga pada saat itu sudah mulai dilakukan praktik ilmu anatomi dengan melakukan pembedahan untuk mengetahui struktur tubuh manusia.

“Sekitar abad ketiga Masehi itu ada tokoh di Alexandria yang merintis pembedahan pada tubuh manusia,” ucapnya.

Sementara itu, menurut dr Romi, buku teks anatomi paling awal yang dilengkapi ilustrasi antara adalah karya Mansur ibn Ilyas (1380-1422) yang dikenal sebagai Tashrihi Badani Insani Mansuri atau Mansur’s Anatomy. Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap diseksi manusia, buku teks anatomi dengan ilustrasi yang sesuai dengan aslinya (naturalis) semakin berkembang.

Kecenderungan itu terus tumbuh. Hingga akhirnya pada abad ke-15 hadir Andreas Vesalius (1514-1564) yang menghasilkan karya De Humani Corporis Fabrica. Kemudian, dia dijuluki sebagai Bapak Anatomi Modern. Vesalius tercatat sebagai ilmuan kedokteran yang menekankan bahwa untuk belajar anatomi seseorang harus mengerjakan diseksi mandiri.

Minat dr Muhammad Manshur Romi terhadap ilmu anatomi sendiri telah muncul sejak menjadi mahasiswa. Ia menempuh pendidikan formal S1, S2, dan S3 di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta. Ia juga memiliki kesempatan belajar ke beberapa negara maju, seperti ke Kanada, Jepang, dan Amerika Serikat.

“Sejak di tingkat S2 akhir itu saya membantu sebagai asisten dosen anatomi, tetapi kemudian keterusan sampai lulus, dan akhirnya mendaftar juga sebagai dosen anatomi,” kata mantan Wakil Dekan Fakultas Kedokteran UGM ini.

Saat masih menjadi mahasiswa, ia juga aktif di gerakan dakwah kampus. Bahkan, ia pernah menjadi salah satu ketua Jama’ah Shalahuddin UGM Yogyakarta dan menjadi salah satu pengelola Pondok Pesantren Budi Mulia.

Selain mengajar sebagai dosen Fakultas Kedokteran UGM, ia saat ini juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhuhammadiyah Purwokerto.[rep]

Tags: #abad pertengahan #anatomi #anatomi manusia #gereja #ibnu nafis #ibnu sina #ilmu anatomi manusia #ilmuwan muslim #razi