Hukum Tradisi Pecah Kendi pada Acara Peresmian

140 views

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terkait pecah kendi, kita sepakat ini berangkat dari budaya. Islam sama sekali tak pernah mengajarkannya, baik di dalam wujud dalil tegas atau juga isyarat.

Selanjutnya kita akan bicara persoalan budaya.

Di dalam melangsungkan suatu budaya, ada dua motivasi yg jadi pertimbangan bagi pelakunya,

1. Karna disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan serta selera penduduk.

Umpamanya budaya busana, macam santapan, jenis tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan seterusnya.

Melangsungkan acara budaya semacam ini, pada asalnya tidak dibatasi selagi tak melanggar syariat.

Sebagaimana dinyatakan di dalam hadist,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih paham tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim 6277)

Dan seperti yg kita maklumi, karena keberadaan hadist ini berkaitan dengan persoalan pekerjaan. Di mana para sahabat asli Madinah, mereka mengkawinkan kurma, yg itu membutuhkan banyak effort di dalam melakukannya. Sebab petani wajib naik ke kurma jantan, ambil benang sari, kemudian turun, selanjutnya naik lagi ke pohon kurma betina, untuk menaruhnya pada putik.

Melihat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yg aslinya masyarakat Mekah merasa terheran, serta menurut beliau itu tindakan yg terlalu banyak buang-buang tenaga. sampai-sampai beliau sarankan terhadap mereka untuk dibiarkan saja, jika memang telah ditaqdirkan berbuah, pasti akan berbuah.

Walhasil, pada tahun itu, banyak kurma gagal berbuah. sejak saat itulah, beliau menyatakan bahwa urusan dunia, penduduk lebih paham.

Budaya semacam ini sangat mungkin mengalami perubahan seiring dengan perkembangan hubungan penduduk dan asimilasi budaya diantara mereka.

2. Akibat dorongan keyakinan tertentu.

Kita menyebutnya dengan filosofi budaya. Kemudian dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal.

Mengingat berangkat dari filosofi budaya, masing-masing daerah bisa jadi berbeda-beda, terkait budaya masing-masing.

Pamali yg berlaku di Jogja, berbeda dengan pamali yg berlaku di Sumatra, berbeda jua dengan yg berlaku di Papua maupun Lombok.

Begitu juga yg kaitannya dengan sebab keberuntungan. Di Solo, sebab keberuntungan adalah kerbau. Di Papua, sebab keberuntungan ialah babi. Dan boleh jadi akan berbeda dengan sebab keberuntungan yg berlaku di Lombok atau juga Bali.

Itulah imbas dari keberadaan mitos mereka yg berbeda-beda antara satu penduduk dengan penduduk lain.

Serta umumnya budaya semacam ini tidak mengalami perubahan. Dari dulu sampai sekarang, sama.

Walaupun masyarakat menyebut jaman IT, masyarakat sudah modern, budaya beserta latar belakang mitos ini, protap-nya tetap sama.

Yg menjadi persoalan ialah budaya semacam ini seringnya dikait-kaitkan dengan takdir, baik berupa keberuntungan ataupun kecelakaan.

Pada masyarakat Jogja misalnya, mengadakan hajatan tatkala bulan Suro (Muharram) merupakan sumber ciloko (kecelakaan). sampai-sampai dijadikan pantangan. Rumah menghadap ke utara dianggap lambang keberkahan, dan seterusnya. Pecah kendi dianggap mendatangkan rizki, dan seterusnya.

Padahal bagi seorang muslim, kita meyakini bahwa takdir adalah ketetapan Allah, di mana tak ada satupun mahluk yg mengerti. sampai-sampai ketika takdir itu dikaitkan dengan budaya tertentu, kita dapat sebut, ini seperti nekad meraba ‘perbuatan Allah’ dengan aktifitas mahluk-Nya.

Dari mana anda tahu melakukan hajatan saat bulan Muharram adalah sumber bencana?

Dari mana anda tahu ketika melepas merpati lantas terbang lurus merupakan tanda berkah?

Dari mana anda tahu pecah kendi akan membuka pintu rizki?

Karena itulah, melestarikan budaya semacam ini tidak diperkenankan di dalam Islam. Di dalam kajian aqidah, ini disebut tiyaroh, meyakini keberuntungan dan kesialan disebabkan kejadian tertentu.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah merupakan kesyirikan, thiyarah merupakan kesyirikan, thiyarah merupakan kesyirikan.”

Kata Ibnu Mas’ud, “dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (di dalam hati)” (HR. Abu Daud no. 3910).

Sebab Musibah adalah Durhaka

Bukan berarti tidak ada sebab bencana. Islam pun mengajarkan adanya sebab bencana bagi manusia, yakni durhaka terhadap Sang Pencipta. Sebaliknya sebab keberuntungan adalah ketaatan terhadap Sang Pencipta.

Dari mana kaian tahu hal ini? Al-Quran yg menyebutkan itu.

Allah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Apa saja musibah yg menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. as-Syuro: 30)

Mengenai sebab keberuntungan, Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. al-A’raf: 96)

Demikian, semoga bermanfaat…

Allahu a’lam.

Tags: #Hukum Tradisi Pecah Kendi pada Acara Peresmian