Coca-Cola Diserang Warganet karena Larang Kata ‘Palestina’

255 views

 

Dalam fitur terbaru Coca-Cola, para pelanggan dapat membuat botol coke sendiri. Namun, fitur ini mendapat kritik dari warganet di media sosial karena Coca-Cola tidak mengizinkan frasa “Palestina” dan “Black Lives Matter.” Malahan, mereka mengizinkan frasa ofensif seperti “Kebanggaan Kulit Putih” dan “Fasisme.” Warganet membagikan temuan mereka di Twitter.

Dilansir di Middle East Monitor, Rabu (30/6), salah seorang pengguna Twitter bernama Rami Ismail yang merupakan pengembang gim video dan pendiri GameDev menunjukkan dalam situs Coca-Cola Amerika, kata “Palestina” diblokir.

“Oh, dan maaf @osamadorias, tidak dapat berbagi Coca-Cola dengan Anda. Kata Osama dilarang. Termasuk Mohammed juga dilarang. @CocaCola hanya melarang nama paling umum di bumi karena kalian semua tidak menganggap orang Arab atau Muslim ada,” kata Ismail dalam akun @tha_rami dalam sebuah utasan di Twitter.

“Ups! Sepertinya nama yang Anda minta tidak disetujui,” demikian bunyi pesan di situs tersebut. “Nama mungkin tidak disetujui jika berpotensi menyinggung orang lain, merek dagang, atau nama selebriti. Kami telah bekerja keras untuk memperbaiki daftar ini.”

Sebelumnya, perusahaan Coca-Cola telah meluncurkan beberapa inisiatif komersial yang disebut Berbagi Coke untuk mendorong pelanggan minum soda sebagai minuman pilihan musim panas. Pengguna Twitter lain, Laura Kate Dale menunjukkan situs tersebut juga memblokir “Black Lives Matter” tapi mengizinkan “Blue Lives Matter” dan “Nazis.”

“Saya terus melakukannya selama beberapa menit dan ada banyak lagi kata yang ofensif berjalan dengan baik,” kata pengguna lain @NickTonyMack.

Menanggapi reaksi tersebut, Coca-Cola mengatakan sedang memperbaiki dan meningkatkan fitur tersebut. “Kami terus menyempurnakan dan meningkatkan alat personalisasi Share A Coke kami untuk memastikan itu digunakan hanya untuk tujuan yang dimaksudkan,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan kepada Newsweek.[REP]

Tags: #Coca-Cola Diserang Warganet karena Larang Kata ‘Palestina’