Bolehkah Laki-Laki Memakai Jam Tangan Yang Mengandung Emas ?

204 views

 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambil sutera lalu beliau angkat dengan tangan kanannya, dan beliau mengambil emas lalu diangkat dengan tangan kirinya, kemudian beliau bersabda,

إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي

Dua benda ini haram untuk dipakai para lelaki di kalangan umatku. (HR. Abu Daud 4057, Nasai 5144 dan dishahihkan al-Albani).

Berdasarkan hadis ini, para ulama mengharamkan asesoris apapun yang berbahan emas atau yang mengandung emas bagi lelaki.

An-Nawawi mengatakan,

وأما خاتم الذهب فهو حرام على الرجل بالإجماع ، وكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة ، حتى قال أصحابنا : لو كانت سن الخاتم ذهبا أو كان مموها [ أي : مطليا ] بذهب يسير فهو حرام

Cincin emas hukumnya haram bagi lelaki dengan sepakat ulama. Demikian pula cincin dengan bahan campuran, sebagian emas dan sebagian perak. Bahkan para ulama madzhab kami (syafi’iyah) mengatakan, “Jika bagian mata cincin berbahan emas atau disepuh dengan emas sedikit, hukumnya haram.” (Syarh Shahih Muslim, 14/32)

 

>>> MADU KESEHATAN KHUSUS PRIA YANG BIKIN ISTRI SELALU HAPPY <<< 

 

Jam Tangan Berbahan Emas

Jam tangan berbahan emas, boleh bagi wanita, dan haram bagi lelaki.

Bagaimana jika hanya mengandung sedikit emas ?

Dalam fatwa Lajnah Daimah ada pertanyaan tentang jam tangan emas,

إذا كانت الساعة أو سيرها ذهبا فلا يجوز لبسها للرجل ، وإذا لم تكن من ذهب جاز لبسها للرجل

Jika jam tangan itu berbahan emas atau kalungnya emas maka tidak boleh dipakai lelaki. Jika tidak berbahan emas, boleh dipakai lelaki. (Fatwa Lajnah Daimah, 24/63).

 

Unsur Emas hanya Sedikit

Bagaimana jika unsur emasnya hanya sedikit ?

Syaikhul Islam memberikan rincian pendapat Imam Ahmad tentang status aksesori lelaki yang mengandung sedikit emas.

وفي يسير الذهب في (باب اللباس) عن أحمد أقوال:

أحدها: الرخصة مطلقا؛ لحديث معاوية: {نهى عن الذهب إلا مقطعا}. ولعل هذا القول أقوى من غيره، وهو قول أبي بكر.

والثاني: الرخصة في السلاح فقط.

والثالث: في السيف خاصة

Mengenai kandungan emas yang sedikit (di pakaian lelaki), keterangan Imam Ahmad ada beberapa riwayat,

Pertama, Ada keringanan (rukhshah), berdasarkan hadis dari Muawiyah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang emas kecuali hanya potongan kecil”. Mungkin pendapat ini yang lebih kuat dibanding yang lain. Dan ini pendapat Abu Bakr.

Kedua, Ada keringanan (rukhshah) namun hanya untuk senjata saja.

Ketiga, keringanan hanya untuk pedang.

Syaikhul Islam melanjutkan,

وفيه وجه بتحريمه مطلقا؛ لحديث أسماء: { لا يباح الذهب ولا خريصة }، والخريصة عين الجرادة، لكن هذا قد يحمل على الذهب المفرد دون التابع

Dan ada alasan kuat untuk menilai haram secara mutlak, berdasarkan hadis dari Asma, “Tidak boleh ada emas ataupun al-Kharishah”. Namun ini dipahami untuk emas yang berdiri sendiri dan bukan tabi’ (mengikuti). (Majmu’ al-Fatawa, 21/87)

Dalam as-Syarh al-Mumthi’, Ibnu Utsaimin menjelaskan,

إذا كانت الساعة ليست ذهباً ولا مطلية به، لكن في آلاتها شيء من الذهب هل تجوز؟

الجواب: نعم لا بأس به؛ لأنه إذا كان في الآلات الداخلية، فإنه لا يرى ولا يعلم به، وإن كان في الآلات الخارجية كالعقرب مثلاً؛ فإنه يصير تابعاً فلا يضر.

 

>>> MADU KESEHATAN KHUSUS PRIA YANG BIKIN ISTRI SELALU HAPPY <<< 

 

Jika jam tangan bukan emas dan tidak disepuh dengan emas, namun ada salah satu elemennya yang berbahan emas, apakah boleh ?

Jawabannya: Betul, tidak masalah. Karena jika itu adalah elemen yang ada di dalam, emas itu tidak kelihatan dan tidak diketahui. Dan jika emas itu ada di bagian luar, seperti misalnya jarum jam, maka statusnya hanya mengikuti dan ini tidak berpengaruh. (as-Syarh al-Mumthi’, 6/119)

Di luar itu, Imam Ibnu Utsaimin juga memiliki catatan,

هل يجوز للإنسان أن يشتري ساعة فيها قطع من الذهب؟

الجواب: فيه تفصيل: إذا كان لباس مثله لها يعتبر إسرافاً، دخلت في حد الإسراف

وإذا كان لا يعد إسرافاً فالأصل الجواز

Bolehkah seseorang yang membeli jam tangan namun ada unsur emasnya?

Jawab: dalam hal ini ada rincian, jika jam tangan semacam ini bagi dia termasuk aksesori terlalu mewah maka tergolong israf (pemborosan). Dan jika tidak termasuk pemborosan maka hukum asalnya dibolehkan. (as-Syarh al-Mumthi’, 6/119)

Demikian.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com