Ayo Kita Kembalikan Hari “Minggu” Jadi Hari “Ahad” !

343 views

Kalau kita perhatikan sejumlah arsip majalah serta koran edisi Indonesia periode tempo dulu sekitar jauh sebelum tahun 1935 sampai dengan menjelang tahun 1960, kita tak akan menemukan nama hari bertuliskan “Minggu” selalu kita temukan dengan nama hari “Ahad”. Demikian pula apabila kita mengamati penanggalan kalender tempo dulu, masyarakat Indonesia tak mengenal sebutan Minggu. Kita semua sepakat bahwa kalender maupun penanggalan di Indonesia telah terbiasa-terbudaya untuk menyebut hari Ahad didalam setiap pekan (tujuh hari) serta telah berlaku semenjak periode yg cukup lama. Malahan telah menjadi ketetapan didalam Bahasa Indonesia.

Lantas mengapa kini sebutan hari Ahad berubah jadi hari Minggu tanpa kita semua sadari telah tergantikan ? Kelompok dan kekuatan siapakah yg mengubahnya ? Mulai kapan penggantian Ahad jadi Minggu ? Apakah dasar penggantian Ahad jadi Minggu ? Resmikah serta memiliki kesepakatankah pergantian nama hari tersebut ? Inilah pertanyaan yg dapat timbul setelah adanya perubahan Ahad jadi Minggu secara halus penuh kelicikan terselubung serta terencana yg tak disadari oleh banyak masyarakat Indonesia semenjak 1960 hingga memasuki awal abad ke dua puluh.

Kita ketahui bersama, bahwa nama-nama hari yg telah resmi serta kokoh tercantum kedalam penanggalan Indonesia sedari sebelum masa penjajahan Belanda dahulu, ialah dengan sebutan : Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu. Nama-nama hari ini telah jadi kebiasaan terpola di dalam semua kerajaan di Indonesia.

Semua ini merupakan sebab jasa positif hubungan budaya secara elegan nan damai serta besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yg membawa penanggalan Arab. Pengaruh positif dari agama Islam di Indonesia yg telah banyak memperkaya serta mempengaruhi kosa kata di dalam bahasa Indonesia. Misal : Ahad (al-Ahad = hari kesatu),Senin (al-Itsnayn=hari kedua), Selasa (al-Tsalaatsa’ = hari ketiga), Rabu (al-Arba’aa = hari keempat), Kamis (al-Khamsatun = hari kelima), Jum’at (al-Jumu’ah = hari keenam = hari berkumpul/berjamaah), Sabtu (as-Sabat=hari ketujuh).

Dalam sejumlah masukan, Minggu berasal dari bahasa Portugis dengan asal kata Dominggo dan di dalam dialek Melayu menjadi sebutan Dominggu. Ada lagi menerangkan berasal dari nama seorang tokoh agama tertentu di Indonesia bernama Domingo, kemudian dipelesetkan menjadi Dominggu. Lantaran si Domingo barangkali sangat berjasa, maka diupayakanlah secara maksimal didalam intern terlebih dahulu hari Ahad diganti jadi hari Minggu. Tentang adanya taktik dan persekongkolan jahat yg menggantikan serta mensosialisasikan Minggu pada tingkat Nasional, ini memerlukan penelitian tersendiri bagaimana hal ini dapat terjadi.

Ada yg menerangkan dengan dana tertentu yg cukup besar berasal dari luar Indonesia, menciptakan monopoli pencetakan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia kemudian dibagikan secara gratis ataupun dijual dengan sangat murah. Dampaknya adalah masyarakat Indonesia secara tak sadar kata hari Ahad telah berganti menjadi Minggu didalam penanggalan Indonesia. Tentu anda sekalian lumayan terhenyak serta sedikit terkejut, apakah upaya menihilkan kata hari Ahad di dalam kalender Indonesia begitu penting serta strategis ?

Jawabannya untuk upaya menihilkan kata Ahad bagi ummat Islam adalah penting, sebab kata Ahad mengingatkan kita kepada nama Allah SWT yg Maha Ahad sebanding dengan Maha Tunggal, Maha Satu, Maha Esa Ia tak beranak dan diperanakkan. Kata Ahad di dalam Islam merupakan bagian sifat Allah SWT yg penting berisi arti utuh melambangkan kenyataan yg hak ke-Maha-Esa-an Allah SWT. Dan mengingatkan kita kepada Al Qur’an Surat (QS. 2:116,163 ; 3:2 ; 6:161-164 ; 9:31 ; 25:2 ; 42:11 ; 112:1-4).

Menihilkan kata hari Ahad merupakan upaya terselubung dari beberapa kelompok tertentu untuk menunjukkan adanya eksistensi mereka serta pengaruh kelompok tertentu dapat serta sukses mempengaruhi nama hari di dalam khasanah budaya Indonesia serta unjuk sukses menggusur salah satu nama hari di Indonesia untuk jangka panjang. Bisa juga hari Senin, Selasa, Rabu dan selanjutnya dalam jangka panjang dirubah kembali oleh kelompok pemaksa budaya tertentu serupa nasibnya hari Ahad dengan teknik yg sama.

Kalau selama ini kita menyebut tujuh hari di dalam satu bulan dan satu minggu (keliru berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia), karena itu yg sangat baik serta benar di dalam bahasa Indonesia ialah sepekan. Perkataan serta sebutan Minggu ini, Minggu depan, untuk memaksudkan tujuh hari ini serta kedepan, wajib secepatnya kita ubah ke-dalam bahasa Indonesia yg baik dan benar menjadi Pekan ini, Pekan depan, hari Minggu depan yg dimaksudkan serta nama hari, menjadi hari Ahad depan.

Penulis berharap kepada semua pembaca dapat menyadari bahwa tulisan ini bertujuan untuk mengembalikan predikat hari Ahad kembali kepada tempatnya semula, kembali kepada padanannya semula serta nama hari lainnya. Tentu semua masyarakat Indonesia wajib aktif membudayakan nama hari Ahad kembali didalam setiap surat-menyurat, di dalam setiap penerbitan kalender serta di dalam berbagai surat undangan lainnya, di dalam berbagai tulisan dalam arti luas.

Tags: #Ayo Kita Kembalikan Hari “Minggu” Jadi Hari “Ahad” !