AS Sahkan UU Berantas Islamofobia: Kapan Indonesia Tinggalkan Phobia Ala Snuck Hurgronje?

DPR Amerika Serikat pada Selasa pekan lalu (14/12), meloloskan RUU untuk berantas Islamofobia. Kenyataan ini jelas mengejutkan karena merupakan perkembangan baru setelah pasukan Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan dan terus meningkatnya persaingan antara negara ‘Paman Sam’ itu dengan Tiongkok untuk berebut pengaruh dunia, khususnya terkait sengketa di Laut China Selatan.

Bagi publik Indonesia situasi ini jelas membuat gambaran baru dari arah politik dalam negeri dan luar negeri. Apalagi legislasi yang disponsori anggota fraksi Demokrat, Ilham Omar lahir setelah dia diejek anggota fraksi Republik Lauren Boebert dengan lelucon rais Islamofobia. Omar disebut sebagai annggota “pasukan jihad” legislator liberal.

Imbas dari ejekan Bober, partai demokrat melakukan manuver kepada partai Republik yang mana kemudian membuat partai tersebut tersudut. Partai Demokrat yang dikenal tak suka perang dan menjunjung nilai kebebasan, HAM, dan Demokrasi beralih menggempur balik partai Republik yang terdiri dari para kaum yang disebut suka ‘perang’. Akibat ini semua, kemudian loloslah RUU anti Islamfobia di DPR AS. Partai penguasa Amerika Serikat ini kemudian memaksa DPR AS mengambil langkah resmi pertama dari kasus ejekan Islamofobia itu. Hasilnya, RUU itu disahkan setelah melalui pemungutan suara dengan porsi 219-212 mendukung legislasi yang disponsori Omar itu.

Bagi dunia, sikap AS yang kini punya UU memberantas Islamofobia dapat dimengerti. Mereka rupanya bisa belajar banyak atas kasus yang timbul akibat dari sikap itu yang dahulu kental dan dikobarkan Presiden AS dari Partai Republik George Bush. Saat terjadinya peristwa 911, kala itu presiden Bush memantik soal Islamofobia dengan mengobarkan semangat ‘perang salib’. Dia memilih diksi hitam putih: bersama Amerika atau menjadi musuh Amerika. Maka sejak itu, Islamofobia makin menjadi dan berkobar ke seluruh penjuru dunia. Maka bermunculah berbagai ‘ujaran ajaib’ yang mengidentikan ‘Islam sebagai agama teror’. Alhasil misalnya, seruan takbir ‘Allahu Akbar’ mendapat sebutan baru di media barat sebagai ‘kata-kata setan’ (satanic voice).

Kemudian di Indonesia timbul geger ‘Islam liberal’. Kampanye ini kala itu sangat masif. Iklan-iklan di televisi menampilkan kampanye gerakan itu. Umat Islam resah. Aksi teror pada saat yang sama merebak di mana-mana. Muncul nama-nama terkenal seperti DR Azhari hingga Noordin M Top yang ternyata sudah solid membuat jaringan. Mereka digrebek polisi di mana-mana. Penangkapan mereka disiarkan langsung televisi mirip pertandingan sepakbola. Tak hanya dalam berita pendek atau ‘breaking news’ semata, tapi malah menjadi tayangan siaran langsung sepanjang hari, dari pagi sampai pagi lagi.

Gempita Islamfobia makin seru ketika AS kemudian dipimpin Donal Trump dan di Jakarta muncul Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) jadi gubernur. Di masa itu kemudian muncul aksi protes massal melalui forum ‘Aksi 212’ secara berjilid-jilid. Dan semakin seru ketika memasuki masa pemilihan presiden. Warga benar-benar ”terbelah jadi dua, antara yang mendukung Islamofobia dan anti Islamfobia. Buah puncaknya muncul sebutan Kadrun dan Kampret. Situasi ini makin lestari ketika memasuki masa pemilihan presiden 2019. Kala itu Indonesia terlihat praktis terbagi dua: yakni antara kelompok yang mengidentikkan diri sebagai nasionalis dan Islamis. Ruwet dan berbahaya.

Pertarungan wacana dan ejekan akibat sikap ‘Islamobia’ berlangsung hingga kini. Ada isu atau wacana soal pemerasan Pancasila, usaha penghilangan jejak sejara Piagam Jakarta, penghilangan frase iman dan takwa dalam aturan pendidikan, hingga yang terakhir olok-olok mengenai kaitan pakaian mini dan Islami dengan munculnya perkosaan. Bahkan, terkesan kasus dugaan perundungan siswi sebuah sekolah keagamaan ini ‘digoreng’ sebagai olok-olok baru. Nuansanya persis dengan lelucon yang dilakukan senator Partai Republik, Lauren Boebert, kepada perempuan anggota DPR AS dari Partai Demokrat: Ilham Omar.

Atas situasi ini banyak orang yang merasa khawatir. Mereka jelas tak ingin Indonesia mengalami peristiwa pahit Yugoslavia yang terkenal dengan sebutan ‘Balkanisasi’. Salah satu tokoh yang sejak lama mengkhawatirkan ini adalah mantan aktivis mahasiswa UI yang semat dituduh penggerak peristiwa Malari pada 1974: dr Hariman Siregar. Dalam berbagai diskusi santai menjelang tengah malam, dia berungkali memperingatkan kenyataan itu.”Saya tak mengerti mengapa banyak orang pintar di negeri ini tetap diam saja melihat itu semua. Saya bingung sekaligus aneh. Prihatin. Pemilu malah membuat pembelahan kian akut,” katanya sembari mengelus dada.

Sadar itu semua, maka marilah mulai hari ini menghapus kecenderungan Islamofobia atau menganggap Islam sebagai musuh. Dan juga sebaliknya, mengagap kaum nasional sebagai seteru yang harus dihilangkan keberadaannya. Jadi, tak usahlah perbedaan itu diterus-teruskan. Sikap antipati kepada Islam yang muncul sejak zaman kolonial Belanda melalui Snuck Hurgronye: bahwa Islam sebagai laku ibadah diperbolehkan dan malah harus didukung, Islam sebagai gerakan politik harus diberantas sampai tuntas.

Harapannya, tak usah lagi memutus mata rantai Islam dengan kepentingan politik kekuasaan layaknya apa yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda, terutama setelah era usai perang Jawa pada 1830. Mulai saat itu semua yang berbau Islam atau santri di keraton secara bertahap tapi pasti harus disingkirkan.

Ingat, umat Islam melalui tokohnya M Natsir dari partai Masyumi itulah yang membentuk negara Kesatuan Republika Indonesia (NKRI). Atas manuver dan kesabaran diplomasi ‘Mosi Integralnya’ kala itu Nastir berhasil menyakinkan para Sultan dari berbagai wilayah di Indonesia ‘menyerahkan’ wilayahnya untuk bergabung dan membentuk negara seperti sekarang ini. Di sini harus diketahui bahwa tanpa kelapangan hati para pemimin Islam, yakni para Sultan, negara indah dan seluas ini wilayahnya tak akan seperti sekarang. Tak hanya ikhlas menyerahkan wilayahnya kepada NKRI, para Sultan ini banyak menyumbangkan dana operasioanal negara dengan jumlah yang sangat besar.

Maka, mudah-mudahan apa yang terjadi di DPR AS akan menular ke sini. Marilah kita belajar pada AS yang dahulu begitu menggebu-gebu ‘membesarkan api Islamobia’ dengan menghelanya ke berbagai negara yang sebagian besar berpenduduk Muslim. AS kemudian terbukti gagal menaklukan Irak. Uniknya setelah Sadam Husein dihukum mati, kekuasaan dia malah jatuh ke tangan penguasa baru yang bisa disebut sebagai tangan musuh ‘setan besarnya’, yakni Iran. Hal yang sama juga terjadi di Libya, Suriah, Afganistan, lainnya dan negara timur tengah yang terkena igauan isu ‘Arab Spring’. Di negara itu, setelah Arab Spring reda pengaruh AS bukannya membesar, malah kemudian mengecil. Negara-negara itu pun bukannya semakin makmur, malah kian acak-adut.

Untuk Indonesia perubahan sikap AS itu sebenarnya sudah terindikasi lama. Kala pergantian Presiden Donald Trup ke Joe Biden, tiba-tiba tanpa ada angin dan hujan, menlu AS datang ke Jakarta. Uniknya selama di Jakarta, Menlu AS ini malah menyempatkan diri mendatangi kalangan Nahdliyin, yakni Ansor. Di forum itu entah karena sebab apa dia berpidato menyinggung peran NU dimasa krusial ‘hidup-mati’ sekitar peristiwa tagedi tahun 1965.

Semua itu jelas dapat menjadi bahan pelajaran, khusnya bagi kaum Muslim Indonesia. Di depan kita kini ada suasana baru. Tinggal kita semua bisa tidak memanfaatkannya. Bisakah lupakan ‘phobia’ peninggalan Snuck Hurgronje itu?

 

sumber: https://www.republika.co.id/berita/r4dgl4385/as-sahkan-uu-berantas-islamofobia-kapan-indonesia-tinggalkan-phobia-ala-snuck-hurgronje

Tags: #islamofobia #Kadrun dan Kampret #sejarah masa kini Islamofobia