Apakah Boleh Investasikan Maskawin Setelah Diberikan Suami?

54 views

Pemberian maskawin merupakan salah satu bagian syariat nikah yang diteladankan Rasulullah SAW. Lantas apa hukumnya jika maskawin yang telah diberikan kepada istri digunakan untuk investasi?

Mantan Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara, Muzammil H Siddiqi, menjelaskan mengenai hukum maskawin yang telah diberikan kepada pihak wanita apakah boleh jika diinvestasikan.

Dilansir di aboutislam.net, ketika melangsungkan akad nikah, mas kawin termasuk dalam rukun nikah. Ada pasangan yang memberikan mas kawin berupa barang ada pula berupa uang tunai.

Namun bagaimana jika pihak mempelai wanita tidak menjelaskan rinci jenis maskawin yang diminta? Dan bagaimana jika maskawin yang diberikan setengahnya berupa barang dan sisanya uang tunai, kemudian setelah menikah uang tunai tersebut diinvestasikan?

Siddiqi menjelaskan bahwa maskawin adalah hak istri. Jika dia setuju bahwa maskawin tersebut diinvestasikan maka tidak ada masalah dalam hal ini.

Jika pihak wanita tidak menentukan jumlah uang atau cara pembayaran pada saat menikah, maka mereka dapat membuat perjanjian setelah menikah. Jika mereka tidak setuju, maka apa pun kebiasaan (urf) keluarga pengantin wanita itulah yang akan diikuti.

Jika perselisihan terus berlanjut, maka mereka harus merujuknya ke hakim Islam. Juga, jika wanita itu meminta dan dia ingin uangnya diinvestasikan, maka tidak ada keberatan untuk menginvestasikan uang mahar.

Sementara itu, mengutip buku Fiqh Perempuan oleh KH Husein Muhammad, maskawin menurut Alquran bukan sebagai “harga” dari seorang perempuan. Oleh karena itu, tidak ada ukuran atau jumlah yang pasti.

Maskawin dapat menjadi besar atau kecil. Beberapa hadits dikatakan, sebaiknya jumlah maskawin tidak terlalu besar. Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مُؤْنَة

“Keberkatan paling agung dari suatu pernikahan adalah maskawin yang mudah atau ringan untuk diberikan,” (HR Ahmad).

Sebaliknya, pemberian maskawin secara berlebihan adalah terlarang. Hal ini dimaksudkan supaya tidak menimbulkan kesulitan bagi lelaki untuk melangsungkan perkawinannya. Sebab, mempersulit perkawinan dapat menghasilkan implikasi yang buruk, bahkan merusak secara personal maupun sosial.

Umar bin Khatab RA pernah menyampaikan, ketika seorang lelaki diharuskan memberi maskawin yang mahal kepada calon istrinya, boleh jadi dia akan menyimpan kebencian kepada perempuan itu.

Sementara para ahli fiqh memang ada yang menetapkan jumlah minimal untuk maskawin. Misal, Mahzab Hanafi menetapkan jumlah tidak kurang dari 10 dirham. Madzhab Maliki menetapkan seperempat dinar.

Madzhab Syafi’I menetapkan ukuran maskawin tidak ditentukan berdasarkan nominal tertentu. Menurut Madzab Syafi’i, yang terpenting adalah apa saja yang ada harganya atau sesuatu yang berharga.

Semua pendapat ahli fiqh tersebut sebenarnya hanya memberikan ketentuan maskawin sebaik-baiknya menurut tradisinya masing-masing. Bentuk maskawin pun bisa bermacam-macam, bisa cincin emas atau perak, uang kertas, dan sejenisnya. Bahkan, dalam Madzhab Hanafi, maskawin bisa berupa hewan ternak, tanah, serta barang-barang perdagangan seperti pakaian.[rep]

Tags: #batas maskawin #berapa maskawin #hukum maskawin #investasi maskawin #kawin #maskawin #nikah