Ada Gelisah di Benak Pemandi Jenazah

318 views

Semalam suntuk Ida (45) tidak bisa tidur nyenyak. Petang itu, dia kadung mengucap janji. Bersedia memandikan jenazah warga di RT sebelah kampungnya.

Kepada Ida, keluarga jenazah memastikan. Kerabat mereka meninggal dunia bukan karena Covid. Hanya sakit biasa.

“Cuma sakit maag saja dia, sudah kronis,” mohon keluarga duka kepada Ida.

Ida coba bersikap tenang. Tidak menunjukkan wajah cemas apalagi curiga. Mengucap Basmalah dalam hati. Sambil tersenyum simpul. Ida mengiyakan tanda setuju.

Sudah lama Ida menjadi anggota pengurus masjid di kampungnya. Dia mendapat tugas memandikan jenazah. Di situasi pandemi, Ida membekali diri dengan masker bedah, sarung tangan karet, hazmat, dan pelindung area wajah (face shield).

Baru beberapa langkah tamu pergi meninggalkan rumahnya. Ida buru-buru masuk ke kamar. Tangannya sigap menggapai gawai. Singgah beberapa saat di mesin pencarian. Jemarinya mengetik kalimat, “Memandikan jenazah pasien covid apakah menular?”

Sejumlah artikel muncul menyesusaikan dengan pencarian. Dia menyisir setiap artikel. Mengambil beberapa menit waktu untuk membaca. Sempat terdiam, Ida mantap menunaikan janjinya pada keluarga jenazah.

“Sebenarnya kita enggak tahu dia benar bebas Covid atau tidak,” ucap suami Ida. Ketenangan belum sepenuhnya dirasakan. Kecemasan suami membuat Ida diselimuti kebimbangan. Tetapi Ida tak mau ingkar. Berprofesi sebagai pemandi jenazah, membuat Ida harus siap sedia membantu masyarakat. Dia tidak ingin merasa zalim karena menelantarkan jenazah.

“Keluarga sedang berduka, jenazah pun harus tetap dapat haknya untuk diperlakukan dengan hormat,” pikir Ida.

Keesokan harinya tepat pukul 08.00 WIB. Suara motor terdengar dari halaman depan rumah. Seorang wanita paruh baya mengucap salam. Memperkenalkan diri sebagai perwakilan keluarga duka, datang untuk jemput Ida. Jarak rumah Ida ke kediaman duka kira-kira 2 kilometer.

Ida ikut di boncengan belakang. Sepanjang jalan, dia terus mendekap tas hitamnya. Lafaz zikir tak berhenti dari mulut ibu dua anak ini. Memohon perlindungan kepada Sang Khaliq agar kewajiban yang ia tunaikan tidak membahayakan dirinya dan orang sekitar.

Semua perlengkapan melindungi diri, dia pakai dengan sigap. Kini, sarung dan masker medis melekat ketat di tempatnya.

“Tapi saya enggan pakai inian karena menghargai keluarga saja,” cerita Ida sambil menggerakkan tangannya di area wajah. Rupanya, face shield yang dimaksud.

Proses memandikan dimulai. Tak butuh waktu lama, hanya 15 menit. Setelah selesai, buru-buru sarung tangan karet dia lepas dan dibuang.

Ida kemudian menuju rumahnya kembali. Setibanya, dia bergegas membersihkan diri. Mandi, dilanjutkan mencuci pakaian dikenakan saat memandikan jenazah. Setelah semua selesai, Ida beristirahat.

Sejak pandemi Covid-19 melanda Tanah Air, Ida memang lebih berhati-hati. Bukannya tidak ingin membantu. Tetapi Ida juga harus melindungi diri dan keluarganya. Suami tercinta juga berpesan, sementara waktu tidak memandikan jenazah dengan gejala Covid.

Dia bercerita. Pernah sekali waktu kedatangan keluarga duka. Memohon kesediaan Ida memandikan jenazah keluarga mereka. Beruntung, keluarga duka jujur. Jenazah memiliki gejala Covid. Ida memohon maaf. Tetapi dia memberikan alternatif pada keluarga jenazah.

“Coba ke Ibu ini aja bu, rumahnya di sana, saya sedang enggak enak badan, sedikit meriang takut Covid saja nanti,” ucap Ida yang kala itu terpaksa berbohong.

“Mau gimana, kalau suami enggak ridho, kita yang jalanin juga kurang tenang.”

Sejak kasus Covid-19 melonjak tajam, kerja petugas pemandi jenazah tidak kalah sibuk. Mereka juga sering dihadapkan kondisi sulit. Satu sisi, tidak ingin membiarkan jenazah tak dimandikan menuju tempat peristirahatan terakhir. Tetapi satu sisi, virus yang tak terlihat sering kali membuat was-was.

Hanya berbekal pasrah dan doa, Encah (47) selalu menekankan dalam dirinya, “Mengurus jenazah hukufnya fardu kifayah, kalau bukan kita siapa lagi,” katanya saat ditemui di kediamannya akhir pekan lalu.

Sudah 10 tahun Encah bekerja sebagai pemandi jenazah. Baginya, kerjaan ini memberikan cerita tersendiri. Maka itu, ketika mendengar ada jenazah tak dimandikan, Encah ikut sedih. Tetapi apa daya, penularan virus di seluruh dunia membuat proses pemulasaraan jenazah terinfeksi covid harus sangat hati-hati.

Sejak pandemi ini, kata Encah, sudah beberapa kali dia memulasaraan jenazah pasien Covid-19. Menjaga keselamatannya, Encah selalu mengikuti fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yakni jenazah pasien Covid-19 hanya ditayamumkan karena kondisi darurat.

“Saya ikuti fatwa MUI saja. Ditayamumin saja pakai debu yang ada di tembok rumah bisa, cuma dilap mukanya, diusap tangannya. Saya juga pakai APD lengkap,” kata Encah.

Selesai memulasaraan jenazah pasien Covid-19, Encah menerapkan protokol kesehatan ketat saat proses bersih-bersih. Menyemprotkan pakaian dengan air disinfektan sebelum pulang ke rumah. Setelah beberapa menit, barulah dia pulang dan bergegas mandi setibanya. Tidak lupa, pakaian dikenakan langsung dicuci bersih.

“Sebagai ikhtiar saja, agar kerja saya ini tidak membawa penyakit baginya dan keluarganya di rumah,” tutup ibu tiga anak ini sembari meminta izin beristirahat.

Kondisi Virus Saat Pasien Sudah Meninggal

Keresahan para petugas pemandi jenazah wajar saja. Virus tak terlihat membuat mereka tak ingin ikut terpapar. Sebab, ada keluarga yang menunggu di rumah.

Ahli virologi Universitas Udayana, Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika, menjelaskan pada dasarnya pada tubuh jenazah tidak lagi dapat menularkan penyakit. Sebab, penularan penyakit melalui cairan air mata, liur, kencing, ataupun feses. Tetapi bila penyebab penyakit terpapar virus, maka penularan bisa terjadi melalui droplet saat berbicara ataupun bernapas.

Sebagaimana hakikat hidup virus, katanya, akan ikut mati saat inang yang ditumpangi tidak lagi bernyawa. Sebab tidak ada lagi suplai oksigen untuk mereka.

“Di dalam tubuh mayat, setelah lima jam mayat akan asam. Kalau sudah asam virus sudah mati,” kata Mahardika kepada merdeka.com

Hanya saja, ilmu ini tidak bisa dijadikan dasar bagi masyarakat bergegas memandikan jenazah terinfeksi Covid. Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, dia menganjurkan menggunakan klorine saat proses pemulasaraan.

“Enggak perlu APD, hanya yang penting saat memandikan ada larutan klorin konsentrasi tinggi itu sudah cukup membunuh bakteri virus yang ada di luar mayat. Sedangkan yang di dalam itu tidak akan menular apalagi bangkai tidak bernapas,” pungkasnya.[merdeka]

Tags: #Ada Gelisah di Benak Pemandi Jenazah