32 Tahun Jadi Pemuka Agama, Wanita Inggris Ini Dapat Hidayah dan Masuk Islam

Ada berbagai kisah menarik dan inspiratif terkait perjalanan hidup serta spiritual seseorang yang memutuskan mualaf atau memeluk Islam. Seperti kisah Ruqaiyyah Waris Maqsood, wanita asal Inggris. Ia adalah seorang pendakwah dan penulis buku kenamaan mengenai Islam.

Ruqaiyyah Waris Maqsood menerima Muhammad Iqbal Award Tahun 2001 atas kreativitas dan jasanya dalam mengembangkan metodologi pengajaran Islam. Ini menjadikannya Muslim pertama di Inggris yang pernah menerima anugerah bergengsi tersebut.

Tidak hanya itu, pada Maret 2004, Ruqaiyyah terpilih sebagai 1 dari 100 wanita berprestasi di dunia. Dalam ajang pemilihan ‘Daily Mails Real Women of Achievement’, Ruqaiyyah Waris Maqsood termasuk 1 dari 7 wanita berprestasi dalam kategori keagamaan.

Kesuksesannya tersebut diawali saat ia memutuskan menjadi seorang mualaf dengan latar belakang yang justru dahulunya merupakan seorang pemuka agama Kristen. Penasaran dengan kisahnya? Berikut ini MNC Portal sajikan rangkuman profil dan kisah mualaf Ruqaiyyah Waris Maqsood.

Kehidupan Awal Sebelum Masuk Islam

Ruqaiyyah Waris Maqsood adalah seorang wanita mualaf yang lahir di London, Inggris, pada tahun 1942. Nama aslinya adalah Rosalyn Rushbrook, dan ia dibesarkan dari keluarga Kristen Protestan.

Sejak kecil Ruqaiyyah telah menjadi sosok yang agamis. Pada ada usia 8 tahun, ia telah memutuskan menjadi seorang pemuka agama Kristen sebagai panggilan hati.

Ruqaiyyah pun terus memperdalam ilmu agamanya hingga tingkat pendidikan tinggi. Dia menamatkan program sarjana ilmu teologi Kristen pada tahun 1963 dan mendapatkan gelar master di bidang pendidikan setahun setelahnya dari Universitas Hull.

Setelah itu, selama hampir 32 tahun, Ruqaiyyah mengelola program studi ilmu-ilmu keagamaan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Inggris.

Pemahamannya akan Kristen tentu tidak perlu diragukan lagi. Kecintaan dan pengetahuannya yang begitu mendalam itu pula lah yang akhirnya justru membawa ia menjadi seorang mualaf.

Kisah Mualaf Ruqaiyyah Waris Maqsood

Keputusannya untuk memeluk agama Islam dilatarbelakangi oleh pengetahuannya yang mendalam tentang agama Kristen yang lantas membuat Ruqaiyyah melakukan kajian mendalam tentang ajaran ketuhanan, baik dalam Islam dan Kristen yang ternyata saling berkaitan.

Setelah mengalami pencarian panjang, Ruqaiyyah mantap memutuskan menjadi seorang mualaf pada tahun 1986 saat berusia 44 tahun. Dalam sebuah wawancara dengan media, ia menggambarkan bagaimana keterkaitan ajaran tersebut.

Di negara Barat, ada ajaran ilmu etika berinti pada cinta dan kasih Tuhan dan tolong-menolong sesama manusia. Itu semua diajarkan juga oleh semua nabi, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Kami orang Islam juga meyakini Nabi Isa sebagai salah satu nabi yang diutus Allah,” jelas Ruqaiyyah, seperti dikutip dari tayangan video di kanal YouTube Penduduk Langit, Selasa (12/10/2021).

Keputusan Ruqaiyyah untuk berpindah keyakinan membawa konsekuensi dalam kehidupan pribadinya. Ia memutuskan mengakhiri rumah tangga dengan penyair Inggris George Morris Kendrick yang telah dijalaninya sejak 1964. Dari perkawinannya tersebut, mereka memiliki dua anak, Daniel George yang pada lahir 1968 dan Frances Elisabeth Eva lahir tahun 1969.

Kemudian pada tahun 1990, Ruqaiyyah menikah lagi dengan pria keturunan Pakistan, Waris Ali Maqsood, dan dari situlah ia mengganti nama Rosalyn Rushbrook menjadi Ruqaiyyah Waris Maqsood.

Menjadi Pendakwah Islam Melalui Karya Tulis

Sebelum memutuskan mualaf, latar belakang Ruqaiyyah sebagai seorang pengajar sekaligus pemuka agama telah membuatnya menghasilkan beberapa buku.

Usai memutuskan menjadi mualaf, Ruqaiyyah justru semakin gencar berdakwah dan menulis. Lebih dari 30 buku mengenai Islam telah ia tulis. Hal ini karena Ruqaiyyah ingin menyebarkan ajaran Islam yang sesungguhnya dan melawan stigma buruk tentang Islam yang ada di negara Barat.

Saat ini Islam dicap sebagai agama bermasalah. Sangat tidak adil. Karena itu, saya berupaya menulis untuk memperbanyak literatur-literatur Islam. Harap an saya agar melalui tulisan-tulisan itu dapat membantu memperbaiki atmosfer yang kurang berpihak ke Islam,” ucapnya.

Buku-buku mengenai Islam yang ditulisnya cukup beragam. Tidak hanya buku-buku kategori “berat” seperti buku mengenai sejarah Islam dan isu seputar Muslimah, tetapi juga buku-buku tentang bimbingan konseling bagi remaja Islam. Juga ada beberapa buku saku, antara lain ‘A Guide for Visitors to Mosques’, ‘ A Marriage Guidance Booklet’, dan ‘Muslim Women’s Helpline’.

Oleh komunitas Muslim di Inggris, ia juga diminta untuk menyusun buku teks mengenai Islam. Buku-buku teks hasil karyanya ini dipakai secara luas di Inggris selama hampir 20 tahun. Buku-buku itu dipakai oleh kalangan pribadi, mualaf, dan pelajar-pelajar sekolah umum dan madrasah di Inggris dan beberapa negara lainnya.

Berkat karya-karya nya tersebut, Ruqaiyyah kerap diundang untuk berdakwah tentang Islam di banyak negara di Eropa dan Amerika hingga puncaknya, ia dinobatkan sebagai salah seorang penulis Islam wanita paling berpengaruh di dunia.

Wallahu a’lam bishawab.[mokzn]

Tags: #Hidayah Islam #Inggris #kisah mualaf #mualaf #Ruqaiyyah Waris Maqsood